MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 57,689 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

    Trillium Lake Alpine Glow

    Chin Scratching Short-eared Owl

    More Photos

Kirim Tulisan

paspos.jpg

Tulisan apapun redaktur terima. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Tulisan hendaknya memperhatikan tata aturan jurnalistik: jangan sampai mencoreng nama baik seseorang.

2. Tidak diperkenankan menyudutkan netter

3. Jika memakai nama samaran atau inisial, harap nama asli Anda kirimkan ke redaktur.

4. Komentar-komentar yang Anda berikan harap bersifat membangun, dan bermuara pada pemberian solusi.

5. Hindari ucapan memaki atau jangan memakai diksi yang berasosiasi negatif.

Silakan, jika ada yang mau menulis, kirimkan tulisan Anda via email: nei_khaden@yahoo.com atau langsung Anda posting (tulis) di kolom komentar di bawah ini.

Ya’ahowu

29 Responses to “Kirim Tulisan”

  1. Drs Firman Harefa said

    Kedaulatan Rakyat dan Masyarakat Nias

    Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd

    Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau

    Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan salah satu pasal dalam UU Nomor 10 Tahun 2008 dengan menggugurkan prioritas nomor urut, sekaligus memutuskan bahwa penetapan calon terpilih anggota DPR maupun DPRD berdasarkan suara terbanyak seketika merubah wajah perpolitikan tanah air. Disadari atau tidak, diakui atau tidak kita bisa melihat secara nyata bahwa gairah yang timbul menjelma jadi optimisme baru.
    Terutama para caleg. Bagai mendapat suntikan energi baru, mereka yang semula lesu darah karena berada di urutan ”nomor sepatu” , gegap gempita menyambut keputusan yang terbit di penghujung tahun 2008 ini. Spanduk dan baliho serta berbagai media kampanye yang memang sudah banyak ditebar, jumlahnya semakin meningkat drastis. Gencar promosi dan aktif mendatangi masyarakat pun semakin rutin digelar.
    Terbitnya keputusan penetapan calon terpilih dengan suara terbanyak ini jelas sangat memenuhi asas keadilan. Di urutan berapapun caleg berada, kesempatan untuk duduk di legislatif sama rata. Intinya, siapa yang berjuang maksimal, tentu hasil yang didapatkan maksimal pula.
    Memang keputusan MK ini mengandung pro dan kontra. Tapi saya kira, lebih baik kita ambil sisi posistifnya saja bahwa penetapan calon terpilih dengan suara terbanyak merupakan perwujudan dari demokrasi sejati. Sistem inilah yang paling pas dengan konsep kedaulatan rakyat dan patut mendapat apresiasi karena telah mengembuskan angin segar sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap suara rakyat.
    Soal masih diperlukan banyak pembenahan terhadap sistem ini, KPU sebagai penyelenggara Pemilu hendaknya proaktif melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai keputusan MK dimaksud. Ini agar tidak terjadi kebingungan serta tidak mengganggu jalannya tahapan Pemilu yang telah dilaksanakan.
    Saya menilai, beberapa keunggulan sistem ini antara lain adalah akan tumbuhnya kompetisi yang fair antara caleg parpol berbeda maupun sesama caleg dalam satu partai. Ujung-ujungnya karena aktif melakukan sosialisasi, popularitas parpol makin terangkat. Sistem ini juga akan memacu parpol melakukan kaderisasi yang benar-benar serius. Sebab, jika tidak, masyarakat pemilih akan menghukum parpol yang tidak menempatkan kader yang baik dalam daftar caleg dengan cara mengalihkan pilihannya pada calon dari parpol lain yang lebih dipercaya dapat menyalurkan aspirasinya. Barangkali juga akan menekan angka golput (golongan putih).
    Dari sisi partai politik, ada yang gembira, tentu pula ada yang kecewa. Nah, bagaimanakah masyarakat seharusnya memaknai sistem suara terbanyak?
    Hemat saya, sederhana saja. Ini harus disyukuri karena setelah sekian lama hak-hak dan kedaulatan rakyat yang terpasung dalam sistem demokrasi sebelumnya, kini telah dikembalikan pada khittahnya. Posisi masyarakat pemilih sudah dipandang penting dan menentukan. Ini berarti, masyarakat tidak lagi memilih kucing dalam karung. Juga, inilah saatnya rakyat bicara. Kita menentukan dan memilih para calon yang benar-benar dikenal dan disukai.
    Bandingkan dengan sistem yang berlaku pada pemilu-pemilu sebelumnya. Mereka yang duduk bukan berdasarkan suara yang di perolehnya. Seorang caleg ditetapkan menjadi anggota legislatif hanya berasal dari kedekatannya dengan partai ketimbang kedekatan dengan masyarakat konstituennya. Jadi, itu adalah kedaulatan rakyat yang semu, penuh kepura-puraan serta penuh kebohongan dan penipuan terhadap rakyat.
    Namun, menyambut ini hendaknya bukan optimisme semata. Masyarakat pemilih harus cerdas. Hindarilah pemberian suara kepada caleg karena rayuan, uang dan lain-lain seperti yang berlangsung selama ini. Dipahami atau tidak, sistem suara terbanyak ini juga berdampak memberikan pembelajaran politik yang sangat berharga bagi masyarakat. Masyarakat akan semakin dewasa dalam berpolitik, serta membentuk insan-insan politik/kader parpol yang betul-betul memahami kehendak dan aspirasi rakyat.
    Karena itu, mekanisme suara terbanyak yang diputuskan MK semestinya menjadi momentum bagi parpol-parpol untuk berubah, dari sekadar ajang merebut kursi menjadi wadah perjuangan untuk mengubah nasib rakyat. Juga, momentum bagi para wakil dan partai-partai untuk berkaca: apa saja yang telah mereka perbuat untuk memperbaiki kehidupan kolektif?
    Jika dengan sistem ini keadaannya juga tak berubah, maka rakyat akan mengadili para wakil dan partai yang tidak bertanggung jawab itu. Diharapkan, parpol bukan hanya memikirkan kepentingan kelompok sempit, tetapi lebih memiliki cakrawala yang luas, sehingga perjalanan demokrasi kita makin ke depan makin sempurna dalam mencapai dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
    Akhirnya, kita sepakati sajalah bahwa ini sesungguhnya demokrasi yang kita mau. Kedaulatan rakyat harus ditegakkan. Rakyatlah menjadi raja sebagai penentu kebijakan publik. Kita harapkan caleg yang terpilih adalah caleg yang benar-benar mempunyai kapasitas yang mumpuni dan mampu untuk menjelaskan program-programnya dengan baik ke masyarakat.
    ****

    Dari paparan diatas, mari kita bertanya, bagaimana masyarakat Nias seharusnya bersikap menyambut kembalinya kedaulatan rakyat ini?
    Demi kedepan yang lebih baik, sesungguhnya pergunakanlah kesempatan ini semaksimal mungkin. Caranya, ketika tiba hari pemilihan wakil-wakil yang duduk di DPRD (5 daerah otonom di Pulau Nias), pilihlah mereka yang memiliki kualitas baik, moral dan akhlak yang bagus, serta punya kepedulian terhadap nasib dan masa depan masyarakat Nias.
    Dengan memilih wakil yang benar-benar berjuang untuk kemajuan Nias, sama artinya kita telah berbuat sesuatu yang tepat untuk Nias yang kita cintai. Kita jangan lagi terjebak dengan rayuan mereka yang mencari simpati, namun ternyata hanya memikirkan diri sendiri. Kita tentu tak mau kalau anggota DPRD yang hanya datang, duduk, dengar, diam dan duit. Juga, kita jangan lagi memilih anggota DPRD yang kerjanya hanya mengejar-ngejar proyek. Apalagi anggota DPRD yang sampai mencoreng nama baik Nias tercinta seperti kejadian yang sangat memalukan; bermain judi di kantor DPRD.
    Saya berharap, kita semua punya harapan bahwa Pemilu 2009 ini kita mendapatkan wakil yang benar-benar memenuhi harapan kita semua. Sekali lagi, semua itu ada di tangan kita. Kita ingin yang terbaik, maka berikanlah pilihan pada putra-putri Nias yang terbaik. Putra-putri Nias yang berpikir demi dan untuk Nias. Semoga.

  2. Yaahowu fefu.Salam kasih dalam Kristus Yesus.

    Pulau Nias, Tidak terbentuk secara kebetulan, tetapi benar2 rancangan indah dari Tuhan Yesus Kristus bagi kita semua khususnya Orang Nias, maka kita harus percaya bahwa membangun Pulau Nias Tidak bisa dengan kekuatan Manusia, logika, kepintaran(Yeremia 17:5). Buktinya; beberapa ratus tahun sebelumnya kita membangun Pulau Nias, tapi dalam sekejap mata hancur lebur oleh Sunami dan Gempa. Sekarang waktunya Baju Lama(kebiasaan lama,Egois,dll) kita tanggalkan, marilah kita kenakan Baju Baru(Manusia baru,saling menghargai dll) dan mengandalkan Tuhan(Yer.17:7-8). Maaf, Kolo kita berkata” Pulau Nias maju karena saya,kepintaran,kekuatan dan Oleh uang saya, itu pasti sia2. Saya ajak seluruh Masyarakat Nias, mari kita percayakan Tugas PEMULIHAN dan Pembangunan Nias ini sepenuh-penuhnya kepada TUHAN KITA YESUS KRISTUS(Mazmur 127:1,2) Tuhan memberkati,Shalom..

  3. TOGATOROP said

    YAAHOWU FEFU
    NIFOSUMANGEGU FEFU TALIFUSO SISO BA TANO NIHA.
    YAODO SAMOSA NIHA BATAK,TAPI UILA MAIFU LI KEKHEDA BE YAO PERNAH TINGGAL DAN MOHALOWO BA TANO NIAS TEPATNYA BA MANDREHE.GINOTO YAO BA TANI NIHA MANDREHE LE NASA PEMEKARAN HA SABUAH KECAMATAN.

    TALIFUSOGU FEFU
    SALAM KEKELUARGAAN MORO KEGU KE NAMAGU ZALAWA GUNUNGBARU,LAEKU ZALAWA FADORO,AMAGU TOKE AMA WATI,MASIH AURI NASA DRAUGE AMAGU BERE YAUGE PERNAH ITABA PERAMPOK. SALAM KE AMAGU AMA WATI KANTOR CAMAT SEKELUARGA,BERE PERNAH YAODO TINGGAL ZIMANE KOST BA NOMO AMAGU AMAWATI ANDRE. SALAM KE WATI YANG CANTIK,GIMANA KABARMU.
    NOMANGOWALU DRAUGE WATI,HEZO BANUAU MAEKE. SALAM KEPADA SEMUA MASYARAKAT MANDEREHE YANG BELUM BISA SAYA SEBUT.

  4. Dermawan Gulo said

    Tindak Lanjut Nias Barat.

    Otonomi daerah Baru akhirnya terwujud juga,tp bkn berarti perjuangan Nias Barat berhenti. Secara geografis daerah otonom baru mempermudah akses pembangunan yg lebih cepat dan efisien utk dpt dinikmati masyarakat. Pernahkah kita berpikir siapa yg menikmati terbentuknya daerah otonom baru ini? Untuk rakyat atau segelintir orang yg mengatasnamakn rakyat? Harapan kita,pemerintah yg baru dibentuk mampu menjadi pengayom bagi masy. Hidup Nias Barat!

  5. Dermawan Gulo said

    Tgl 26 Okt ’09 pertama kalinya Pemda Nisbar membuka Penerimaan CPNS Formasi 2009.
    Ini adalah ujian sejauh mana pemerintah kita bertindak sesuai dgn prosedur yg ada. Kita berhrp rekrutan ini merupkn kumpulan dari org2 yg bermutu sehingga roda pemerintahan ke depan berjalan dgn baik. Slamat meengikuti dan semoga berhasil.

  6. Yaahowu fefu,

    saohagele khe ono matua faoma ono alawe talifusegu ono niha menoa mebantu medirikan telu kab ba dane niha,sitobali fanofugu sibai yaidae ibu kota ba ono limbu faoma ba tuhemberua, ni ilagu sebelum mangoli ba dano zareu kota daene masih areu moroi ba ni harapkan, terutama sikola ndraono badae oya sibai ha tamat SD. jadi hadia sitola tahalewegoi, ono niha siso badane zareu tolong faige ndraono dalifuseda siso badane niha haisa sikolara.

    yaahowu fefu

    syahrul efendi.

  7. Center for Global Civil Society Studies &the National Democratic Institute
    ==========================================================================
    Buletin triwulan untuk memperkuat civil society Vol 1 JULI 2010

    Alamat Redaksi:
    YAYASAN ROEMAH IBOE PERTIWI
    Contact Person :
    PETERADI CHRISTIAN ZENDRATO
    alamat : Jalan Gambir Raya No 9
    Perumnas Simalingkar
    Kec:Medan Tuntungan
    Kota : Medan
    Kode Pos : 20353
    Telepon : (061) 8365207
    Mobile Phone : 081376484878
    Fax : 061- 8456461
    Email : peter.nias@gmail.com
    Website :www.peterlaowomaru.com
    Negara : Indonesia

    PERADATAN SATU HARI DALAM MASYARAKAT NIAS
    (HADA FALOWA HALOWO BA BAZI MAOKHO )

    DISUSUN OLEH
    Pdm.PETERADY CHRISTIAN ZENDRATO.SPd
    PELAKSANAAN HARI I (PERTAMA) SEBELUM PERKAWINAN .)

    1. Mencari Jodoh : ini disebut:

     Famaigi Niha (Nias Barat,Laraga,Nias Tengah )
     Famakha Bale (Hilinawalo,Nias Selatan )
     Lobi-Lobi (Hilisimaetano Bawomataluo,Aramo,Siwalawa)

    Tutur bahasanya/pelaksanaannya : (Pelaksana SI’O ) Setelah diakhiri dengan kebaktian doa bersama,Perantara Pihak laki-laki ( Tome ) disebut : Si’o ( telangkai ) dihadapan zowato ( Pihak Perempuan ) : berkata:
    “No so ami zowato, ba iya da’a so ya’aga ba da’a,ba moiga zui ba nomo da’a omasiga mamaigi niha ba nomo da’a boro so ono alawe sisokhi li , sibaga mohalowo, sokhi mangandro ba I’ila zui mondrino fefu ngawalo halowo ono alawe I’ila mano nirongoma ono alawe zi so ba nomo da’a,Ba noa goi so khoma Manandra Fangifi ( Daerah Tuhegewo, Amandraya,Aramo ) artinya = melihat jodoh baik atau tidak dari mimpi si laki laki calon mempelai, ba noa zui Mafaigi todo manu ( Lolowa’u) artinya =: melihat jodoh baik atau tidak dari pemeriksaan jantung ayam,siduhu nia sokhi si’ai inoto da’a moiga khomo bongi da’a .Lalu Si’o Si’ila, ( Daerah To’ene/NISEL ) bertanya pada kepada HIWA ( keluarga dekat si gadis ) apakah sigadis belum terikat dan bersedia menerima pinangan lamaran.

    Langkahnya😦 Pihak SIO memberikan ayam yang dipotong sedemikian rupa yang telah dimasak dan disusun sehingga hati ayamnya nampak dengan baik
    Lalu pihak HIWA berunding memutuskan bahwa si Gadis belum ada tunangannya dan bersedia menerima pinangan lamaran

    ( Tandanya : Menerima ayam dan menyambut tamu dengan memberi Sirih kepada pihak TOME )
    2. Pertunangan ( Famatua /Fanunu Manu)

     Famaigi bowo ( Daerah Moro’o )
     Fame Laeduru=tukar cincin ( Daerah Laraga,
     Tuhegewo/Amandraya, Aramo,Daro-Daro Balaeka )

    Pihak laki laki menyampaikan lamaran secara resmi kepada pihak perempuan, dipandu oleh Satua Famaigi bowo (pembawa acara) Yang istilahnya adalah fohu-fohu bulu ladari ( diikat dengan daun ladari ).Tutur bahasanya/pelaksanaannya : Ba noa sa mitema ndra’aga, ba no mi wao zui khoma, ono alawe ba nomo da’a tola tobali umono ba nomoma, sokhi da’o ba iya da’a malau saae hadia zisokhi nia ba ni fotoi Fanunu Manu, Hiza ma be’e Afo si Sara faoma laeduru ena’o mitema ba waomuso dodomi, he yaami Zowato
    Langkahnya :
    Penyerahan babi di piring secukupnya dilampiri uang yang disepakati bersama diatas daun sirih dan diberikan kepada Sowato.

    Tanda jadi peminangan diserahkan Afo si Sara yakni :
    Tawuo = sirih
    Betua = kapur sirih
    Gambe = Gambir
    Fino = pinang
    Bajo = tembakau

    Penyerahan Afo si Sara ( sirih ) kira-kira 100 lembar,gambir 25 biji ,tembakau 1 ons,pinang 20 biji,kapur sirih 1 ons, dibungkus dengan baik, dalam bungkusan diselipkan cincin belah rotan untuk bahan tukar cincin dengan lampiran uang secukupnya sesuai dengan kesepakatan semula..
    3. Fangoro ( Kunjungan Calon Pria ke calon mertua )
    Dihadapan Tome dan Zowato calon penganten Pria ditemani adiknya laki-laki menghadap calon mertua., tujuannya untuk berkenalan lebih baik lagi

    Langkahnya :
    Membawa nasi dan lauk pauk babi yang telah dimasak secukupnya dilampiri Uang seharga anak babi, diserahkan dalam piring beralas daun sirih, serta membawa seperangkat sirih. Setelah diakhiri dengan kebaktian doa dan makan bersama Pihak zowato membalas kunjungan ini dengan memberikan oleh oleh untuk calon menantunya, daging dan sejumlah uang.,yang telah disepakati bersama untuk dibawa pulang,ini dilaksanakan didepan TOME dan ZOWATO

    4.Fanema Bola ( penentuan jujuran ) Mamalua angeraito bowo, lebih dikenal dengan mangoto bongi :disebut juga :

     Fanunu manu sebua ( Daerah Laraga )
     Famorudu nomo ( Moro’o);
     Fangerai bowo ( Daerah Aramo,To’ene)
     Fanofu bowo ( Bawomataluo )

    Dihadapan TOME DAN ZOWATO, pihak perempuan ZOWATO hanya disertai saudara laki-laki si perempuan .mengunjungi pihak TOME, untuk acara menghitung jujuran; Materi Acara :
    1.Memastikan hitungan mahar kawin.(Jujuran )
    2.Menghitung biaya Fondroni Bawi(Lauk Pauk Pesta)
    3.Menghitung Fangai Bowo ( Beras Perkawinan )
    4.Menghitung Famolaya si tenga bo’o (Uang dan Simbi )
    Penerimaan Bowo adalah sebagai berikut :
    a. Tolambowo ( orang tua kandung ) menerima BOWO
    b. Bulimbowo ( famili terdekat ) menerima BOWO
    Pelaksanaan penerimaan bowo ini dilakukan pada waktu pesta perkawinan.. Kedatangan pihak ZOWATO disambut dengan menghidangkan Babi dengan ukuran yang disepakati bersama diletakkan 2 ekor yang sama jumlah dan nama nama menurut simbinya Simbi adalah bagian paling berharga dari babi.Acara penghitungan jujuran ini disebut juga femanga bawi nisila hulu( = artinya seekor babi dibelah dua dari kepala sampai ekor; separoh untuk perempuan dan separohnya untuk lelaki, sebagai simbol kesepakatan,mempersatukan dua keluarga , tanda pertunangan tidak dapat dibatalkan lagi.
    Jika batal perempuan harus mengembalikan jujuran lipat ganda atau pihak pria tidak menerima jujuran jika batal sepihak oleh pria.Besarnya jujuran yang harus dibayar oleh pihak laki-laki disepakati sesuai dengan pembicaraan sebelumnya yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

    Langkahnya :Cara memotong-motong babi di Nias dipotong secara teratur dan mengikuti pola meliputi :
     Pertama, melepas bagian simbi.
     Kedua, membelah babi dari mulai ujung hidung, sebelah telinga, hingga ekor yang disebut söri.
     Ketiga, membagi bagian perut dari söri dengan menyertakan sedikit telinga yang disebut sinese.
     Keempat, membagi rahang atas menjadi dua, yang mereka sebut bole-bole.
     Kelima, memotong kaki belakang, disebut faha. Keenam, memotong kaki depan yang disebut taio. Semua babi dikuliti dan dipotong-potong dengan cara yang sama, lalu dibagikan kepada hadirin, kerabat, dan tetangga sesuai stratanya masing-masing.
     Simbi adalah haknya ketua adat atau orang yang paling dihormati.
     Söri adalah haknya ketua adat, para paman, mertua, dan ketua rumpun keluarga.
     Sinese adalah haknya ketua adat, adik atau kakak laki-laki, tokoh agama, dan tokoh pemerintah.
     Bole-bole adalah haknya ketua adat, ketua rumpun keluarga, dan salawa.
     Faha adalah haknya keponakan dan anak perempuan.
     Taio diberikan khusus untuk para pemotong.
     Menurut adat, pihak FADONO ( saudara wanita dari penganten perempuan ) berhak menerima salah satu ta’io ( kaki depan ) yang dipotong dalam upacara itu

    5. FAMEKOLA ( Pembayaran Uang Mahar )

    Dihadapan TOME DAN ZOWATO ;Keluarga pria datang ke pihak perempuan untuk membayar mahar dengan membawa seperangkat sirih dan Uang mahar yang telah disepakati bersama semula diletakkan diatas piring beralas sirih.
    Pihak perempuan menyambut pemberian mahar dengan menyediakan 3 babi, dalam Pinggan dengan uraian perincian pemberian :
    1. Satu piring untuk rombongan yang datang.
    2. Satu piring untuk ibu pengantin pria
    3. satu piring lagi untuk dibawa pulang pihak
    TOME. ..
    6. FONDRONI BAWI(Perlengkapan lauk pauk pesta kawin )

    6.1.FANU’A BAWI ( Melihat Babi Adat ).
    Materi acara dalam Fondroni Bawi adalah :
    • Menentukan hari dan tanggal perkawinan ( falowa )
    • Persiapan sehubungan perlengkapan perkawinan.
    • Menghitung/mengingatkan jumlah BOWO yang
    masih belum dibayarkan
    • Uang untuk Famolaya si tonga bo’o

    Pihak TOME memperlihatkan dalam Piring potongan daging babi yang dilampiri uang sejumlah berapa simbi yang akan dipersiapkan dalam falowa mendatang sesuai dengan kesepakatan bersama.Dalam kegiatan ini disampaikanlah bahwa Babi perkawinan adalah babi yang telah memenuhi persyaratan, dengan rincian pembagian Babi Adat adalah sebagai berikut : a.Babi yang pertama ; yang paling besar untuk keluarga perempuan (So’ono ) dan pihak paman si gadis ( Uwu b.Babi yang kedua, diperuntukkan bagi warga kampung keluarga si gadis ( Banua ) dan pihak laki-laki ( Tome )
    6.2. FOLAU BAWI (Mengantar Babi Adat )
    Pihak TOME memperlihatkan dalam Piring potongan daging Babi Adat yang dilampiri uang sejumlah berapa simbi yang akan dipersiapkan dalam falowa mendatang, sesuai kesepakatan Ke-2 Babi Adat ini diberikan dengan dengan upacara tertentu, dan disambut oleh pihak perempuan juga dengan upacara tertentu dengan syair yang berbalas-balasan.
    7. FANGA’I BOWO (Mengambil beras bantuan )
    Pihak perempuan datang mengambil beras bantuan ke pihak pria untuk mengambil beras bantuan pada pesta kawin,tanda waktu pelaksanaan tidak berobah lagi dengan sejumlah beras yang telah disepakati bersama sesuai dengan undangan yang bakal diedarkan
    Langkahnya : Sejumlah beras dalam Lauru/Tumba
    Dilampiri uang untuk pembelian beras yang telah disepakati bersama sesuai dengan undangan yang bakal diundang/diedarkan
    8. FAME’E
    ( Nasehat untuk calon mempelai )
    Dihadapan TOME DAN ZOWATO dilakukan upacara fame’e ( tuntunan cara hidup untuk berumah tangga ) Calon pengantin pria ditemani teman-temannya ( ortu tidak ikut ) datang ke rumah perempuan membawa seperangkat sirih.Para ibu-ibu pihak keluarga perempuan menasehati sang gadis, biasanya si gadis menangis ( fame’e=menangisi sigadis, karena akan pisah dengan keluarga )
    9. FAMOZI GARAMBA(Gadis Pingitan );
    Dirumah si perempuan;Habis fame’e dibunyikanlah gong ( aramba ) dan gendang gondra ) terus menerus ,sampai hari pesta dilaksanakan. Sang gadispun dipingit, untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya..

    Dilarang dengan sengaja menyiarkan,memamerkan,mengedarkan
    /menjual kepada umum tanpa izin penulis:(UU RI No 19 Thn 2002 ttg hak cipta Pasal 72 )sesuai hak atas kekayaan intelektual (UU RI No.14.Thn 2005 Pasal 14 Point 1 butir c)© 2004 Hak Cipta Penulis oleh Pdm.PETERADI CHRISTIAN ZENDRATO.SPd Telp.( 061 ) 8365207-HP.081376484878 Email Peter.Nias@GMail.com

    10. FOGAUNI UWU
    ( Mohon doa restu Paman)
    Dihadapan TOME dan ZOWATO pihak perempuan melaksanakan Fogauni Uwu ( Mohon doa restu Paman ( paman =sibaya /saudara laki – laki ibu si gadis )untuk pelaksanaan pernikahan mendatang ).memberi Simbi + Ni’o Nuwu + Bowo Tana nuwu
    11. FALOWA (Pesta perkawinan dilakukan di dua tempat.)
    A. Di tempat perempuan
    • Rombongan TOME disambut dengan upacara adat ( fangowai Tome) dan tari maena serta doa salam serta pemberian sirih melalui tari moyo .
    • Bolihae/Hiwo-Hiwo
    • Fangowai TOME
    • Fame’e AFO moroi TOME (Menyerahkan sirih tanda penghormatan)
    • Dilanjutkan dengan acara Membagi SIMBI Babi Adat dan FAMOLAYA SI TENGA BO,O , makan bersama babi adat yang dimasak dengan cara :

    A. BABI telah dibagi DARI KEPALA SAMPAI EKOR( SIMBI ) ATAS 2 BAGIAN untuk :
     1 bagian orang tua si gadis dan keluarga si gadis (So’ono )
     1 bagian untuk teman sekampung si gadis ( banua )
     1 bagian untuk orang tua laki laki dan rombongan ( Tome )
     1 bagian untuk Paman si gadis ( Uwu )
    B. Membagi Simbi.
    Langkahnya :Memotong daging secara teratur dan mengikuti pola yakni :
     Pertama, melepas bagian simbi.
     Kedua, membelah babi dari mulai ujung hidung, sebelah telinga, hingga ekor yang disebut söri.
     Ketiga, membagi bagian perut dari söri dengan menyertakan sedikit telinga yang disebut sinese.
     Keempat, membagi rahang atas menjadi dua, yang mereka sebut bole-bole.
     Kelima, memotong kaki belakang, disebut faha. Keenam, memotong kaki depan yang disebut taio. Semua babi dikuliti dan dipotong-potong dengan cara yang sama, lalu dibagikan kepada hadirin, kerabat, dan tetangga sesuai stratanya masing-masing.
     Simbi adalah haknya ketua adat atau orang yang paling dihormati.
     Söri adalah haknya ketua adat, para paman, mertua, dan ketua rumpun keluarga.
     Sinese adalah haknya ketua adat, adik atau kakak laki-laki, tokoh agama, dan tokoh pemerintah.
     Bole-bole adalah haknya ketua adat, ketua rumpun keluarga, dan salawa.
     Faha adalah haknya keponakan dan anak perempuan.
     Taio diberikan khusus untuk para pemotong.
     Menurut adat, pihak FADONO ( saudara wanita dari penganten perempuan ) berhak menerima salah satu ta’io ( kaki depan ) yang dipotong dalam upacara itu

    Dilarang dengan sengaja menyiarkan,memamerkan,mengedarkan
    /menjual kepada umum tanpa izin penulis:(UU RI No 19 Thn 2002 ttg hak cipta Pasal 72 )sesuai hak atas kekayaan intelektual (UU RI No.14.Thn 2005 Pasal 14 Point 1 butir c)© 2004 Hak Cipta oleh Pdm.PETERADI CHRISTIAN ZENDRATOSPd. Telp.( 061 ) 8365207-HP.081376484878 Email Peter.Nias@GMail.com

    C. FAMOLAYA SITENGA BÖ’Ö ( Membagi Cinta Kasih kedua mempelai bagi famili ): Bentuknya potongan dari simbi diatas pinggan yang dialasi sirih dan dilampiri uang; meliputi :

    1. Untuk “nga’ötö nuwu” (paman dari ibu mempelai perempuan),
    2. Untuk “uwu” (paman mempelai perempuan),
    3. Untuk”talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai perempuan),
    4. Untuk “sirege” (saudara dari orangtua mempelai perempuan),
    5. Untuk“mbolo’mbolo”2 paket (masyakat kampung dari pihak mempelai perempuan, biasanya uang itu dibagikan kepada masyarakat kampung),
    6. Untuk onosiakhi (saudara bungsu mempelai perempuan)
    7. Untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo,
    8. Selesai Pembagian SIMBI dan FAMOLAYA dilanjutkan dengan berdoa makan bersama. Setelah selesai Doa Penutup Makan ;Puncak acara dilaksanakan FANIKA GERA’ERA ( MEMBUKA FIKIRAN ) ;yaitu perhitungan kembali semua mahar ( jujuran/bowo ) baik yang sudah maupun yang belum dilunasi,oleh pihak keluarga laki-laki .
    Arti bowo adalah : Budi Baik. Penerimaan Bowo adalah sebagai berikut :
    a. Tolambowo ( orang tua kandung ) menerima BOWO
    b. Bulimbowo ( famili terdekat ) menerima BOWO dibagi rata. Pelaksanaan penerimaan bowo ini dilakukan pada waktu pesta perkawinan.Selesai pembagian bowo ( Uang yang diberi diatas Piring yang beralas daun sirih dan dilampiri potongan daging ),Oleh Ketua adat kedua belah pihak,dengan pinggang pengantin pria dijamah ketua adat nasehat diberi kepada penganten ,nasehat kewajiban suami kepada isteri,kepada suami,nasehat sebagai menantu kepada mertua,sebagai anggota suku.Selesai diucapkan nasehat itu, punggungnya diketuk (pelan ) (1 x ) sekali.Demikianlah dilakukan berulang-ulang,. Selesai acara diatas,dilanjut dengan acara Bimbingan Nasehat dari kedua belah pihak dan pemberian Buah tangan oleh para undangan yang hadir lalu ditutup dalam Doa berkat oleh Uwu .
    12. FAME’E TOU NONO NIHALO
    Dari pelaminan pengantin wanita digendong saudara laki-lakinya disatukan kepada mempelai pria yang baru selesaia acara Fanika Gera-era., diisi dengan acara : a. Kata Penyerahan oleh Pihak Zowato b. Kata Penerimaan oleh Pihak Tome c. Doa berkat oleh Kedua belah pihak
    13. FAMASAO NIOWALU (mengantar penganten perempuan )Dalam ruangan pesta diatur lokasi ruang untuk seolah olah rumah tempat pengantin laki-laki

    Pelaksanaan Kegiatannya : Penganten perempuan ditandu oleh saudara laki-laki si gadis di kursi tandu yang dihiasi.
    • Di rumah pihak laki laki rombongan disambut dengan upacara adat ( fangowai ) dan tari maena pihak TOME serta doa salam dan sirih
    • Rombongan dijamu dengan pemberian babi yakni :
    • 2 potong untuk yang mengantar penganten
    • 2 potong untuk same’go ( ibu penganten perempuan )
    • 2 potong untuk para tamu/Undangan
    • TOI BA NEWALI ( PEMBERIAN NAMA PADA MEMPELAI PUTRI )

    • Penganten perempuan diserahkan kepada pihak penganten laki yang disambut oleh dua orang ibu muda yang belum beranak.
    • Pengantin wanita diberi nama baru/gelar yang diawali kata Saorta=pelabuhan ) atau (Barasi=emas termahal) yang bermakna ::

    1.Pengantin perempuan telah menjadi anak mertuanya
    2.Tanda telah dewasa Contoh : Nama aslinya Arisman Sanuno Zagoto Laki laki ) atau Yanurwaty Ziraluo ( Perempuan
    b.Nama sesudah kawin dipanggil menurut nama keponakannya : Mis : Sibaya Nueli ( Paman sai Nueli ) kalau perempuan dibuat namanya mis : Barasi Sausolama c. Setelah punya anak, dipanggil menurut nama anaknya ;misalnya : Ama Fonaha ( anaknya bernama si Fonaha ) atau ibunya dipanggil InaFonaha. Memanggil pengantin baru dengan nama kecilnya/nama masih lajang atau gadis, dianggap tidak menghormatinya
    14. FAMEGO (memberi makan penganten perempuan ).
     Keluarga perempuan mengunjungi rumah pihak pengantin pria membawa Simbi anak babi yang telah dimasak beserta nasi
     Rombongan disambut dengan adat menyediakan :
    1. 2 potong babi untuk Bapak si perempuan
    2. 2 potong babi untuk Ibu si perempuan
    3. 2 potong babi untuk nenek (Gawe )si perempuan
    4. 2 potong babi untuk Kakek (Tuha ) si perempuan
    5. 2 potong babi untuk undangan Satu dari masing masing penerimaan untuk dimakan bersama, satu lagi hitungan potongan babi hidup/atau( diganti uang ) untuk dibawa pulang

    15. FEMANGA GAHE DAN FAMULI NUKHA
    (Kunjungan penganten kerumah perempuan )

    Menurut adat, pihak FADONO ( saudara wanita dari penganten perempuan ) berhak menerima salah satu ta’io ( kaki depan ) yang dipotong dalam upacara ituFEMANGA GAHE = artinya makan bagian kaki dari babi yang dipotong,yang merupakan jatah saudara kandung si penganten perempuan, yang telah bersuami,merupakan lambang pelaksanaan hak penganten perempuan
    Acara ini merupakan kunjungan pertama kedua penganten ke pihak keluarga perempuan setelah beberapa hari pesta.Penganten bersama rombongan membawa tiga ekor babi yang sudah dimasak beserta nasi secukupnya , dengan pembagian sebagai berikut :

    1. Mertua , satu ekor babi
    2. Saudara terdekat mertua, satu ekor babi.
    3. Para undangan, satu ekor babi.

    Pada saat itu juga dilakukan famuli nukha/gama-gama ( yaitu mengembalikan barang-barang atau alat perhiasan yang dipakai saat perkawinan yang bersifat pinjaman kepada orang tua )

    Di NIAS SELATAN disebut : MAMULI TOWA.
    Aktifitas FAMULI NUKHA antara lain meliputi :

     Pada waktu pulang penganten dibekali 3 ekor anak babi betina untuk modal kerja peternakan bagi sang mempelai.
     Diberi bibit padi sebanyak sambua lauru ( 1 Lauru = 24 Takar ) untuk modal pertanian
     Diberikan juga BALEWA ( parang ) sebagai lambang alat pertanian
     Para famili perempuan juga memberikan buah tangan baik alat dapur atau perhiasan, pemberian ini diumumkan serta diketahui masyarakat dan undangan yang hadir
    SESAMPAINYA NANTI DI RUMAH PIHAK PENGANTEN PRIA, MAKA SELURUH KERABAT PENGANTIN PRIA DIPANGGIL UNTUK MEMBERITAHU PEMBERIAN PIHAK KELUARGA SI PEREMPUAN PADA KEDUA MEMPELAI.SETELAH UPACARA INI SELESAI , MAKA SELESAILAH SELURUH KEGIATAN PERKAWINAN ANTARA KEDUA BELAH PIHAK YANG MENIKAH BESERTA SELURUH KERABATNYA.

    ALAMAT YAYASAN ROEMAH IBOE PERTIWI ADALAH DI :
    PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT “ LAOWOMARU “

    Singkatan : PKBM “LAOWOMARU”
    Contact Person : PETERADI CHRISTIAN ZENDRATO
    alamat : Jalan Gambir Raya No 9 Perumnas Simalingkar
    Kec : Medan Tuntungan
    Kota : Medan
    Kode Pos : 20133
    Telepon : (061) 8365207
    Mobile Phone : 081376484878
    Fax : 061- 8456461
    Email : peter.nias@gmail.com
    Website :
    Negara : Indonesia
    Jenis Organisasi : NGO/LSM,
    Tahun berdiri : 2007
    Jumlah Staf : 7 orang
    Jumlah Sukarelawan : 3
    Sumber Dana : Dana Hibah, Fund raising lembaga
    Tujuan yayasan :
    a. memajukan pendidikan, pengajaran dan kebudayaan serta program pengentasan kemiskinan masyarakat berbasis komunitas/adat
    b. membantu pemerintah dan masyarakat dengan bekerja sama dan sama sama bekerja untuk melaksanakan program :
    Advokasi dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat
    Gerakan do’a antar agama, kepercayaan, dan iman.
    Isu gender dan pendidikan perdamaian
    Konseling berwawasan gender
    Kerja sama khususnya dengan organisasi yang konsen terhadap pemberdayaan perempuan.
    Penelitian/analisa konflik Pelatihan dan diskusi/seminar/dialog
    Pendidikan kewarganegaraan
    Pendidikan non-formal menunjang pendidikan formal
    Pendidikan Generasi Muda Masyarakat Adat
    Pelatihan dalam keterampilan peacebuilding
    Promosi hak asasi manusia
    Promosi toleransi and pluralisme
    Promosi pemerintahan yang berwibawa
    Penguatan masyarakat sipil Penguatan ekonomi masyarakat
    Penguatan Perempuan Adat Penguatan Ekonomi Masyarakat Adat
    Pendampingan korban trauma /teknik pengobatan trauma
    Pembangunan daerah konflik/rehabilitasi
    Peringatan dini/penemuan fakta
    Pendampingan litigasi/non litigasi.
    Pengembangan media audio visual (Pembuatan film dokumenter).
    Pertukaran informasi (publikasi, internet, dsb
    Penerbitan buku. promosi toleransi dan pluralisme
    Pengembangan Organisasi dan Jaringan Kerja dan Pranata Adat di Komunitas Masyarakat Adat-
    Pengorganisasian/pemberdayaan masyarakat,
    Strategic planning berwawasan gender
    Training feminisme

    GUNA MENCAPAI MAKSUD DAN TUJUAN TERSEBUT DIATAS, MAKA YAYASAN BERUSAHA DENGAN :
    a. mendirikan, membangun, menyelenggarakan dan membina :
    – Sekolah Umum mulai tingkat TK,SD-SMP TERPADU,
    – PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT ( PKBM
    1.PKBM LAOWOMARU
    2.PKBM BALUSE
    3.PKBM BANUADA
    4.PKBM TANO NIHA
    b.mendirikan LSM/NGO
    1.LSM PENDIDIKAN SUMATERA UTARA
    ( LSMPSU )
    2.LSM PENDIDIKAN MEDAN
    3.PETER LAOWOMARU FOUNDATION
    c.mendirikan Panti Pengasuhan Anak
    1.LAOWOMARU SAVE NIAS CHILDREN
    2.OMO NIHA SATUA
    3.LAOWOMARU PRAY HOME
    4.PANTI ASUHAN ROEMAH IBOE PERTIWI
    d.mendirikan event organizer kebudayaan berbasis komunitas/adat
    1.NAZARETH EVENT ORGANIZER
    2.SANGGAR LAOWOMARU
    e.menjalankan usaha-usaha lainnya yang tidak bertentangan dengan maksud dan tujuan yayasan ini

  8. Pemuda adalah sekelompok masyarakat yang masih dalam usia remaja, peran aktif mereka dalam kegiatan positif sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum, karena pemuda adalah generasi yang akan menjadi penerus generasi sebelumnya. Kemajuan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas pemuda yang meliputi semua aspek kehidupan, seperti dalam hal pendidikan, kebudayaan, moral, dll.
    Untuk membentuk remaja yang bisa menjadi harapan bangsa bukanlah hal yang mudah, tetapi usaha ini membutuhkan kerja keras dan kerjasama dari semua pihak, mulai dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga, kemudian perkampungan dimana mereka tinggal, lingkungan sekolah, sampai pada lingkungan dimana mereka berada dalam suatu Negara.
    Usia remaja memang masih sangat labil sehingga sangat mudah untuk terpengaruh dengan keadaan di sekitar mereka, maka peran orang tua dalam perkembangan remaja sangat dibutuhkan. Kasih sayang dan perhatian dari orang tua sangat diperlukan untuk membentuk karakter mereka.

  9. Anonymous said

    listrik arah kec.moro.o dari kec.mandrehe dipadamkan pln padahal hidup di kota mandrehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: