MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 60,332 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

  • Advertisements

Archive for the ‘Aine Talifusö, Tahaogö Mbanuada’ Category

Masalah Gender dalam Adat Perkawinan Nias

Posted by Postinus Gulö on September 28, 2009

Istilah gender menjadi booming sejak gerakan feminisme dicetuskan. Sejak itu kata gender menjadi kata revolusioner feminisme yang menggemparkan. Orang pertama yang mencetuskan kata feminisme adalah aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Seperti kita tahu feminisme dipelopori pertama kali di Eropa oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet bersamaan lahirnya era Aufklarung (Pencerahan). 

Gagasan-gagasan mereka kemudian diteruskan oleh, antara lain, Simone de Beauvoir, Helene Cixous, Julia Kristeva, Mohanty dan Bell Hooks. Tokoh-tokoh feminisme ini hendak memperjuangkan agar perempuan tidak mendapat diskriminasi. Mereka menolak penindasan terhadap perempuan berdasarkan jenis kelamin (gender). Mereka tidak setuju pada ide-ide yang menomor-duakan perempuan. Mereka muak pada dominasi laki-laki atas perempuan. Mereka jengkel pada perempuan yang hanya diam menerima kesemena-menaan lelaki. (1)

Melalui tulisan ini saya berusaha membongkar sekaligus menggugat perkawinan di Nias yang secara sistematis melahirkan diskriminasi atas dasar jenis kelamin (gender). Analisis-analisis saya selalu merefer pada realitas dan konteks daerah Moro’o (Mandrehe). Oleh karena itu, tulisan ini bukan sebatas spekulasi.

Perkawinan yang Melahirkan Problem Gender

Sejatinya, perkawinan di Nias telah banyak melanggar dan mengabaikan prinsip-prinsip keadilan sebagaimana diserukan dalam dokumen sinode para uskup sedunia, Iustitia in Mundo (IM). IM menolak tindakan yang menjadikan manusia sebagai objek (IM. artikel. 52). Akan tetapi, dalam sistem perkawinan Nias justru perempuan dijadikan sebagai objek yang tertindas. Oleh karena itu, perempuan Nias mesti dibebaskan dari ketertindasan di dunia (lihat IM artikel. 35). Salah satu kontribusi saya untuk ambil bagian membebaskan perempuan Nias dari penindasan adalah melalui tulisan. Tulisan ini semacam usaha untuk melihat secara baru perkawinan Nias yang telah melahirkan permasalahan gender sehingga mengekang kebebasan perempuan Nias.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Posted in Aine Talifusö, Tahaogö Mbanuada, Budaya, Gagasan Inspiratif | Leave a Comment »

Keteguhan Hati Dokter Kanserina

Posted by Postinus Gulö on December 31, 2007

Sumber: Kompas, 31 Desember 2007 

Oleh Andy Riza Hidayat

Tidak banyak orang mengambil pilihan sulit. Merelakan kepentingan sendiri, hidup jauh dari keluarga. Meski pilihan hidup “lebih baik” itu bisa diambil, dokter Kanserina Esthera Dachi memilih lain.

Sejak tahun 2001 dia menjadi satu-satunya dokter spesialis penyakit dalam di Pulau Nias. Sebelumnya, dokter spesialis penyakit dalam tidak pernah ada di Tano Niha. Meskipun jauh dari gemerlap hidup dokter spesialis, Kanserina mengaku bangga. Read the rest of this entry »

Posted in Aine Talifusö, Tahaogö Mbanuada | Leave a Comment »

Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias Barat?

Posted by Postinus Gulö on October 22, 2007

Pengantar

Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, dan keragu-raguan. Hal ini tentu merupakan kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistem prakteknya” atau “masyarakat Niasnya”? Jawabannya: dua-duanya!

Arti Böwö

Etimologi böwö adalah masi-masi, nibe’e si’oroi dödö tenga ni’andrö ba tenga siso sulö (pemberian dengan kasih, pemberian yang tulus bukan karena diminta dan tanpa menuntut balas-jasa). Dari segi etimologi,  böwö itu sangat baik, mengedepankan dimensi edukatif-etis dan formatif. Makna terdalam dari böwö, yakni pemberian yang dilandaskan cinta kasih, bukan material dan bukan pula tindakan memberi agar menerima! Arti sejati böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya!

Böwö dapat juga diartikan sebagai hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb., lalu kita beri fegero kepada tetangga kita. Fegero adalah suatu tindakan yang mengandung kesadaran untuk saling memperhitungkan tetangga melalui pemberian makanan – baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat hajatan/acara tertentu – kepada tetangga kita secara cuma-cuma. Tindakan memberi fegero merupakan aktualisasi kepekaan untuk selalu berbagi, tidak egois dan untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang ringan tangan sebagai niha soböwö sibai (orang penderma).

Lantas kenapa böwö itu seperti dikomersialkan? Indikasi pengomersialan böwö sebenarnya gampang kita lihat. Misalnya, istilah böwö sering direduksi menjadi gogoila (goi-goila: ketentuan). Malah kata gogoila yang lebih familiar di kalangan tokoh adat Nias saat ini. Untuk mencapai “ketentuan” tentu ditempuh cara “musyawarah”(yang dimediasi oleh siso bahuhuo/juru runding). Berdasarkan pengalaman saya, dalam musyawah itu terjadi “tawar-menawar” berapa gogoila yang harus dibayar oleh pihak mempelai laki-laki. Dalam menegosiasi jumlah böwö, kadang terjadi percekcokan antartokoh adat, keluarga pihak perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Percekcokan itu sering dipicu oleh saratnya kepentingan mendapatkan bagian böwö.

Read the rest of this entry »

Posted in Aine Talifusö, Tahaogö Mbanuada, Budaya, Tentang Nias | Tagged: | 7 Comments »

Cara Agar Pulau Nias Terlepas Dari Belenggu Kemiskinan

Posted by Postinus Gulö on October 20, 2007

Sejak Weblog ini dipublikasikan ke publik (sejak 25 September 207)  baru dua orang netter yang menyampaikan usulannya tentang cara agar Pulau Nias terlepas dari belenggu kemiskinan. Usulan kedua saudara kita ini, bisa Anda telaah, menambah, atau mengomentarinya. Read the rest of this entry »

Posted in Aine Talifusö, Tahaogö Mbanuada | Leave a Comment »

Teknologi Pedesaan: Belajar Nirsampah dari Kelapa

Posted by Postinus Gulö on October 4, 2007

 

Pengantar Redaksi:

Membangun daerah sendiri suatu aktualisasi dan perbuatan mulia. Pengorbanan, kemauan dan kesabaran adalah trilogi mobilisator utama. Di Nias, banyak hal yang bisa kita buat demi membangun Nias yang terjerat kemiskinan. Tulisan di bawah ini, adalah salah satu bahan bacaan yang barangkali memicu daya inspiratif untuk berpikir: apa yang hendak saya buat untuk membangun Nias? Selamat membaca. Ya’ahowu! Read the rest of this entry »

Posted in Aine Talifusö, Tahaogö Mbanuada | Leave a Comment »