MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 57,689 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

    Trillium Lake Alpine Glow

    Chin Scratching Short-eared Owl

    More Photos

Selamat Jalan Ibu, Doakan Kami Anak-Anakmu……

Posted by Postinus Gulö on July 22, 2011

Denyutan nadinya semakin jarang dan akhirnya berhenti sama sekali. Rabu, 20 Juli 2011pukul 3. 30 WIB dini hari, Ibunda tercinta Faustina Somasi Gulö dipanggil Allah di sisiNya dalam usia 54 tahun. Ia meninggal di rumahnya di kampung Dangagari-Nias Barat dengan ditemani suami Tageli Gulö alias Ama Sohahau dan anak-anak, menantu serta cucu-cucunya. Pada hari Jumat, 22 Juli 2011 Ibu dimakamkan di tempat pemakaman keluarga, kampung Dangagari-Kecamatan Moro’ö, Nias Barat.

“He ga’a no mofanö ninada, no iröi  ita. Mifaigi ha wa’ara mangawuli ami. Lö ma’ohe ba kabu nalö ya’ami sidarua” (‘Bang, Ibunda tercinta telah pergi, telah meninggalkan kita. Kalian usahakan kapan pulang ke Nias. Kami tidak mau memakamkan Ibu sebelum kalian berdua tiba’). Demikian bunyi SMS dari adik Munieli Gulö dari Nias tepat pukul 3. 50 WIB.

Mendengar berita itu, saya berdebar, tak kuasa menahan tangis. Sontak saya sadar, Ibu telah bersama Allah. Akhirnya saya berdoa, semoga arwah beliau bersama para malaikat dan orang kudus di surga sana. Saya pun menghubungi Netieli Gulö, adik saya yang sedang kuliah di Unpar Bandung, agar pada hari itu juga kami berdua pulang ke Nias. Setelah selesai urusan izin perkuliahan, kami berdua terbang ke Pulau Nias naik pesawat Garuda Citilink dari Bandara Soekarno Hatta – Medan. Besoknya, kami menumpang pesawat Wings Air menuju Nias. Kami tiba di rumah sekitar pukul 11. 00 WIB pada hari Kamis, 21 Juli 2011.

Ucapan belasungkawa datang tak henti dari teman-teman, suster, frater dan konfrater OSC. Konfrater Riston Situmorang, OSC yang sedang studi di Roma menyampaikan ucapan duka cita sedalam-dalamnya. Konfrater Eko Susanto OSC pun menyampaikan ucapan duka. Banyak konfrater dan frater OSC lainnya turut berduka, saya tidak menyebut satu per satu. Kon(frater), saya mengucapkan limpah terima kasih. Konfrater Didi Tarmedi OSC menuliskan peristiwa meninggalnya Ibu di facebook. Kenalan yang tersebar di pelosok Tanah Air menyampaikan ucapan duka cita. Begitu pula kenalan yang berada di luar negeri dengan haru turut berduka-cita atas meninggalnya Ibu.

Sesampainya kami di rumah, mahasiswa-mahasiswi IKIP Gunungsitoli bergantian melayat, menyampaikan kata-kata penghiburan. Sebagian besar mereka adalah teman-teman Munieli Gulö yang merupakan mahasiswa Program Sastra Inggris di IKIP tersebut. Ucapan duka datang juga dari siswa-siswa SD, SMP dan SMA Moro’ö. Tak luput warga kampung, fadono, warga adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat datang melayat dan menyampaikan ucapan duka serta penghiburan. Terima kasih, doa dan perhatian Anda semua.

Sokoguru Keluarga  

Lebih banyak bekerja daripada berbicara. Memberi contoh daripada hanya menyuruh. Selalu bangun lebih subuh daripada anak-anaknya. Itulah Ibu tercinta Somasi Gulö alias Ina Sohahau. Beliau  berpribadi ulet, pekerja keras, tekun dan disiplin. Walau tak pernah duduk di bangku sekolah, ia memiliki etos kerja yang luar biasa.

Ibunda tercinta, Somasi Gulö, lahir pada tanggal 9 Mei tahun 1957. Tiga puluh tahun silam, ia dinikahi Tageli Gulö alias Ama Sohahau. Somasi lahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara – 2 laki-laki, 5 perempuan, dari pasangan almarhum Afore Gulö/Ama Zilö’ami-Ina Zilö’ami. Ayahnya seorang tokoh adat yang disegani dan berpengaruh di Hilimaöga kala itu. Sepinggal ibunya, ayahnya menikah lagi dan dikaruniai 4 anak: 2 laki-laki dan 2 perempuan.  Dengan kata lain, Somasi memiliki 10 saudara.

Kepada kami anak-anaknya kadang-kadang Ibu menceritakan pengalaman hidupnya sebelum beliau menikah. Menurutnya, ketika kedua saudaranya, Ama Jaya Gulö dan Ama Pian Gulö,  menuntut ilmu di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Gunungsitoli, Somasilah yang menjadi sokoguru sehingga kedua saudaranya tersebut bisa selesai studi dan menjadi pegawai negeri sipil. Setiap kali kedua saudaranya ini pulang ke rumah di Hilimaöga, Somasi sudah menyiapkan beras untuk mereka bawa ke Gunungsitoli. Somasi berjuang keras mencari uang dan bersawah serta menumbuk padi untuk saudara-saudaranya dan juga untuk ayah-ibunya. Ia masih gadis, tetapi banting tulang berwasah di daerah Hiligafasi. Jarak Hilimaöga-Hiligafasi ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam jalan kaki.  Waktu itu, sarana jalan penuh lumpur, tidak sebagus sekarang.

Dalam keluarga, Ibu berjuang keras agar kami anak-anaknya, tak ada yang tidak sekolah. Ibu sering menasehati kami bahwa orang berpendidikanlah yang berguna di tengah masyarakat. Menurutnya, hidup seseorang semakin lebih baik dan terjamin jika berpendidikan! Prinsip inilah yang ia pegang sampai hayat hidupnya.

Tubuh Lemah, Semangat Tak Pudar

Ibunda tercinta meninggalkan kami, anaknya, 8 orang (5 laki-laki & 3 perempuan) setelah beliau hidup berjuang dalam mengarungi samudra penyakit selama kurang lebih 15 tahun. Penyakit kronis menggerogoti  tubuhnya hingga kurus kerempeng. Walau tubuh lemah, semangatnya tak pernah pudar. Itu barangkali obat mujarab yang membuatnya bertahan hidup dalam penyakit yang menimpa dirinya.

Sekitar tahun 1996, Ibu diserang penyakit muntah darah. Banyak orang menyangka Ibu diguna-guna atau disantet oleh dukun. Tetapi, kami sekeluarga tidak percaya pada rumor itu. Kami tetap yakin bahwa dalam setiap peristiwa hidup, ada hikmatnya bagi keluarga kami. Peristiwa sepahit apapun kami anggap sebagai ujian hidup.

Sejak tahun 1996, hampir setiap hari ia mengonsumsi obat, baik yang dibeli dari dokter maupun yang diberikan oleh Pastor Mathias Kuppens, OSC. Akan tetapi, penyakit itu kadang sembuh, kadang kambuh lagi. Seolah-olah bukan semakin membaik malah semakin memburuk. Penyakit lain turut menggoroti tubuhnya. Bertahun-tahun dia mengidap bisul beranak, sembuh satu tumbuh lagi yang lain. Pernah kami sudah pasrah ketika beliau mengalami bisul di dalam kerongkongannya. Ibu tak bisa makan. Lehernya membesar dan berlubang menganga. Hanyalah setetes air bisa menyentuh bibirnya. Tetapi, mukjizat memang selalu bersamanya. Walau secara medis, Ibu tak mungkin tertolong, ternyata ia bisa sembuh.

Penyakit demi penyakit menghinggapi tubuhnya, pemberian Sang Khalik itu. Ibu pernah diserang penyakit kanker payudara. Keadaan kampung yang terletak di daerah terisolasi, membuat pengobatan Ibu tidak maksimal. Kami hanya mengandalkan obat ramuan rumput-rumputan ala pengobatan tradisional. Jika kita memiliki iman dan harapan serta kasih, kehendak Allah nyata dalam hidup kita. Ibu ternyata sembuh. Tuhan Allah memberinya kesempatan lagi untuk hidup.

Dalam kondisi Ibu yang ringkih penyakit, kami anak-anaknya tetap memiliki harapan akan masa depan. Keadaan ekonomi keluarga yang tergerus oleh biaya pengobatan Ibu tidak membuat kendor semangat kami. Tahun 1999, saya, Postinus Gulö, anak ke-2, berani melangkah dengan segala risiko yang akan berhadapan dengan saya. Pada tahun itu, saya menyeberang dari Pulau Nias ke Pulau Sumatera, tepatnya di Sibolga untuk mengenyam pendidikan di SMA Swasta Santo Fransiskus Aek Tolang. Benar kata orang bijak, niat tidaklah cukup, mesti mewujudkan niat itu. Keputusan saya melangkah ke Sibolga merupakan perwujudan akan niat yang telah lama bergaung dalam diriku.

Selama di Sibolga, sering saya mendengar kabar tentang Ibu yang terus mengalami penyakit. Surat demi surat saya terima dari kampung halaman. Berita penyakit Ibu itulah isi sebagian besar surat itu. Berita itu kadang membuat kendor semangatku belajar. Akan tetapi, saya tidak perlu berlarut-larut dalam kesetresan. Saya sadari itu. Stress tidak ada gunanya. Dikala sekolah libur, saya pasti pulang kampung berkumpul bersama keluarga.

Sekitar tiga tahun silam, kami menyarankan agar Ibu tidak lagi bekerja di ladang dan sawah. Sebab, setiap kali dia bekerja dia pasti muntah darah. Walaupun demikian, Ibu tetap mau bekerja di sekitar rumah. Maklum, bagi orangtua yang cinta anaknya, tidak bekerja seolah dunia tak berarti baginya. Tahun 2010 lalu, Ibu diserang penyakit ganas: tidak bisa buang air besar selama 11 hari, suatu kondisi yang tidak bisa diterima akal budi. Normalnya, selama 11 itu tidak mungkinlah seseorang bertahan hidup. Tangan Tuhan tetap menjamahnya. Ibu berangsur-angsur sembuh. Saya terakhir bertemu Ibu pada akhir Februari hingga akhir Maret 2011, ketika saya melakukan penelitian lapangan dalam rangka penulisan tesis S-2 saya. Waktu itu beliau masih bisa jalan-jalan sekitar rumah, dia juga ramah menyambut tamu dengan afo (sirih).

Sekembalinya saya di Bandung, ayah memberitahukan  bahwa Ibu kembali sakit. Dia kesulitan buang air besar. Tubuhnya mati setengah, tak mampu bergerak. Sepertinya, Ibu kena stroke. Sejak bulan Juni 2011, Ibu hanya terbaring di tempat tidur. Dia tidak bisa lagi bersuara dengan jelas. Dalam kondisi seperti itu, Ibu menyuruh adik-adik saya membuat bolaboko, tikar ( tufo), dan menyampaikan wasiat kepada ayah dan kepada kami anak-anaknya.

 

Mendapat Pengurapan Orang Sakit

Suatu berkat dari Allah, sehari sebelum Ibu menghembuskan nafas terakhir, Pastor Mathias Kuppens OSC memberinya sakramen pengurapan orang sakit. Suatu sakramen yang meneguhkan iman orang sakit untuk menerima keadaannya dan rahmat Allah. Ibu dipersiapkan untuk bertemu Sang Sumber Hidup: Allah Tritunggal. Paman Ama Pian juga datang mengunjungi Ibu. Kami yakin dan mengimani bahwa Ibu dipanggil oleh Allah dalam kedamaian dan kebahagiaan.

Selamat jalan Ibu, engkau berbahagia di alam surga sana….Cinta dan pengorbananmu tak terkira atas kami, anak-anakmu. Maafkan kami Ibu.….Keutamaan hidupmu kami pegang sebagai suluh bagi jalan kami. Ibu….doakan kami anak-anakmu.  Selamat jalan Ibu, engkau menikmati kebahagiaan surgawi. Tubuh ringkih penyakit telah sirna. Engkau menikamati kesembuhan abadi bersama Sang Khalik. (By Postinus Gulö).

 

 

Kami yang berduka:

 

Tageli Gulö alias Ama Sohahau

(Suami)

Anak: 8 orang:

  1. Sohahau Gulö alias Ama Melvin (Wiraswasta/Agen Karet)
  2. Postinus Gulö (kuliah S-1 [Filsafat] dan S-2 [Teologi] di Universitas Katolik Parahyangan Bandung)
  3. Munieli Gulö (Mahasiswa S-1 IKIP Gunungsitoli, Program Sastra Inggris)
  4. Ribeni Gulö (Petani)
  5. Netieli Gulö (Mahasiswa S-1 di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP), Program Administrasi Publik).
  6. Roswita Gulö (Kelas 3 SMA)
  7. Antonius Gulö (Kelas 1 SMA)
  8. Rinamawati Gulö (Kelas 1 SMA).

Menantu Perempuan:

Merry Hulu (Ina Melvin Gulö)

Cucu:

  1. Melvin Selvyani Gulö (Kelas V SD)
  2. Romli Gulö
  3. Maeswinda Gulö

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: