MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 57,686 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

    La voie lactée

    • A Storm At Sea For The Birds And Me •

    More Photos

Masalah Gender dalam Adat Perkawinan Nias

Posted by Postinus Gulö on September 28, 2009

Istilah gender menjadi booming sejak gerakan feminisme dicetuskan. Sejak itu kata gender menjadi kata revolusioner feminisme yang menggemparkan. Orang pertama yang mencetuskan kata feminisme adalah aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Seperti kita tahu feminisme dipelopori pertama kali di Eropa oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet bersamaan lahirnya era Aufklarung (Pencerahan). 

Gagasan-gagasan mereka kemudian diteruskan oleh, antara lain, Simone de Beauvoir, Helene Cixous, Julia Kristeva, Mohanty dan Bell Hooks. Tokoh-tokoh feminisme ini hendak memperjuangkan agar perempuan tidak mendapat diskriminasi. Mereka menolak penindasan terhadap perempuan berdasarkan jenis kelamin (gender). Mereka tidak setuju pada ide-ide yang menomor-duakan perempuan. Mereka muak pada dominasi laki-laki atas perempuan. Mereka jengkel pada perempuan yang hanya diam menerima kesemena-menaan lelaki. (1)

Melalui tulisan ini saya berusaha membongkar sekaligus menggugat perkawinan di Nias yang secara sistematis melahirkan diskriminasi atas dasar jenis kelamin (gender). Analisis-analisis saya selalu merefer pada realitas dan konteks daerah Moro’o (Mandrehe). Oleh karena itu, tulisan ini bukan sebatas spekulasi.

Perkawinan yang Melahirkan Problem Gender

Sejatinya, perkawinan di Nias telah banyak melanggar dan mengabaikan prinsip-prinsip keadilan sebagaimana diserukan dalam dokumen sinode para uskup sedunia, Iustitia in Mundo (IM). IM menolak tindakan yang menjadikan manusia sebagai objek (IM. artikel. 52). Akan tetapi, dalam sistem perkawinan Nias justru perempuan dijadikan sebagai objek yang tertindas. Oleh karena itu, perempuan Nias mesti dibebaskan dari ketertindasan di dunia (lihat IM artikel. 35). Salah satu kontribusi saya untuk ambil bagian membebaskan perempuan Nias dari penindasan adalah melalui tulisan. Tulisan ini semacam usaha untuk melihat secara baru perkawinan Nias yang telah melahirkan permasalahan gender sehingga mengekang kebebasan perempuan Nias.

Perempuan Nias mengalami ketidakbebasan, baik saat masih gadis maupun setelah menjadi istri. Pada saat gadis Nias dinikahi, pada saat itulah ia berada dalam kuasa lelaki (suaminya). Ia tidak lagi diagungkan. Perempuan subordinasi lelaki. Ia adalah pelengkap dari suami. Ia “harus” tunduk pada suaminya. Ia objek laki-laki. Persis seperti inilah yang ditolak oleh tokoh feminis kondang, Simone de Beauvoir (2) dan Iustitia in Mundo (Keadilan di Dunia). Oleh karena itulah saya berani menyatakan bahwa ada keanehan dalam memahami perkawinan di Nias. Keanehan terlihat teutama dalam menempatkan kedudukan perempuan di Nias pra dan pascanikah.

Saat masih gadis seolah-olah dianggap sebagai simbol kesucian yang harus dijaga. Maka, menjadi aib keluarga jika gadis Nias diperlakukan semena-mena oleh lelaki atau orang lain. Konsep ini lantas mempengaruhi mentalitas para orangtua untuk tidak membebaskan anak gadisnya keluar rumah sembarangan. Tujuannya agar jangan sampai anak gadis la’osiwawöi (diperlukan semena-mena). Sebenarnya, cara ini juga menjadikan gadis Nias sebatas objek. Objek larangan adat yang harus mereka turuti. Maka, sejatinya, gadis Nias tidak menikmati kebebasan. Realitas ini merupakan penindasan yang dibingkai dalam sistem sebagaimana ditolak oleh Iustitia in Mundo artikel 5.

Dulu, tindakan yang dianggap semena-mena terhadap perempuan pun sebenarnya biasa-biasa saja. Misalnya, memegang tangan perempuan, pipi, ngobrol berduaan. Jika ada lelaki yang memaki perempuan, memegang tangan dan pipi perempuan, tertangkap basah berduaan, maka lelaki tersebut mesti didenda (lakhau, lasaka mbewe). Oleh karena itu, orangtua selalu menasehati anak perempuannya agar selalu menjaga kehormatan diriya. Konsekuensinya, jika ada gadis yang melanggar “norma-norma” tersebut dan hamil di luar nikah maka “nilai” böwö-nya menjadi rendah. Pada zaman dulu, gadis yang melanggar norma dan hamil di luar nikah mesti dibunuh atau dikucilkan atau “dijual”.

Sekarang praktek ini tidak lagi dilakukan. Setelah gadis Nias menjadi istri, kedudukannya menjadi terbalik. Yang tadinya (saat masih gadis) tidak boleh diperlakukan semena-mena justru suaminya cenderung memperlakukan semena-mena istrinya. Misalnya, ada banyak suami sesuka hatinya “mempercayakan” tanggung jawabnya kepada istrinya. Maka benar pernyataan Simone: “perkawinan dapat merusak hubungan suatu pasangan.” Kalau dilihat secara cermat, masalah gender sebenarnya telah menyusup dalam terminologi mas kawin di Nias. Dulu, mas kawin itu disebut böwö (dalam bentuk babi, emas dan perak).

Tetapi kemudian berubah menjadi goigoila (yang digariskan/yang ditentukan). Dalam bentuk babi, emas dan uang. Lantas terjadi lagi pergeseran lagi lebih ekonomis: böli gana’a (pengganti emas), fo, ömö (utang). Dari terminolgi ini, perempuan Nias “dianggap” sebagai barang komoditas yang layak diperjual-belikan. Hal itu semakin kentara misalnya: umönögu da’a böli gana’agu: menantuku ini adalah hasil dari emasku atau menantuku ini adalah hasil pembelianku Untuk mengeksplorasi lebih dalam masalah gender di Nias itu saya akan melihatnya dari segi epistemologi, ontologi dan antropologi dengan mengikuti jalan pikiran Dermot A. Lane.(3)

1. Secara epistemologi

Dari segi epistemologi lama, adat perkawinan di Nias adalah warisan leluhur yang berharga yang perlu diterapkan sesuai fondrakö (hukum adat).

Sudut pandang ini memang tidak salah jika pihak perempuan dan laki-laki konsisten menerapkan böwö dalam sistem adat perkawinan Nias. Celakanya, masih banyak masyarakat Nias yang tidak peduli pada realitas penerapan böwö dan juga problem yang lahir karenanya. Mereka hanya melihat aturan-aturan fondrakö tanpa melihat masalah yang timbul pascaperkawinan. Dulu, böwö itu dalam bentuk babi bukan uang. Cara membayar böwö pun tidak hanya menjadi tanggung jawab laki-laki yang akan menikah.

Böwö menjadi tanggung jawab bersama. Yang terlibat adalah: pertama, Orangtua laki-laki yang akan menikah. Kedua, Fadono (pihak yang menikahi saudari perempuan dari laki-laki yang akan menikah). Ketiga, Talifusö (saudara laki-laki dari laki-laki yang akan menikah). Keempat, Ma’uwu (anak dari saudari ayah laki-laki yang akan menikah). Kelima, Sisambua hada (orang-orang yang sama susunan adat dari ayah laki-laki yang akan menikah). Jika semua pihak ini benar-benar menyadari tanggung jawabnya, maka tanggungan laki-laki yang akan menikah akan lebih ringan. Untuk menyanggupi 25 ekor babi tidak menjadi tanggungan yang berat. Harga satu ekor babi Rp. 2 juta hingga 3 juta rupiah.

Sekarang dalam prakteknya, justru orang-orang yang mestinya ambil bagian dalam pesta perkawinan di Nias tidak melakukan kewajibannya. Oleh karena itu, böwö dalam perkawinan di Nias mestinya dilihat dari sudut pandang epistemologi baru. Dalam arti, masyarakat Nias mestinya menerapkan böwö dengan melihat segala permasalahan yang timbul. Masyarakat Nias “tidak boleh” selalu merujuk pada fondrakö. Penerapan böwö hendaknya lebih kulturis dan bukan ekonomis. Kalau dulu, waktu masyarakat Nias konsisten menerapkan böwö tidak menjadi beban, sekarang pun böwö juga seharusnya jangan membebani. Sehingga adat perkawinan Nias tidak menjadi problem sosial baru bagi masyarakat Nias. Karena akibat fatal dari böwö yang membebani adalah diskriminasi terhadap perempuan. Diskrimaninasi itu tampak misalnya dengan “pengeksploitasian” perempuan oleh pihak laki-laki yang masih berutang. Semakin besar utang untuk membayar böwö semakin tereksploitasi juga perempuan Nias.

2. Secara ontologi

Tekanan terhadap perempuan lebih utama adalah faktor ontologis lama. Menurut Simone de Beauvoir, laki-laki dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos bahwa perempuan yang dipuja laki-laki adalah perempuan yang mau mengorbankan dirinya untuk laki-laki. Masyarakat Nias telah melakukan apa yang telah diperingat Simone ini. Di Nias, istri mesti bersedia mengorbankan dirinya untuk suaminya. Tugas dan pekerjaan istri lebih banyak. Istri tidak hanya tulang punggung pencari nafkah melainkan juga mesti taat kepada suaminya. Oleh karena itu, banyak istri di Nias yang sering dipukul oleh suaminya jika sang istri “dianggap” kurang bertanggung jawab atau jika melanggar aturan-aturan yang digariskan lelaki.

Dalam adat perkawinan Nias, pihak perempuan yang akan dinikahi (orangtua, saudara, paman, nenek-kakek, warga kampung, warga adat, saudara ayah perempuan) akan lafosumange (dihormati) dengan sejumlah sinema (penerimaan dalam bentuk uang, emas dan babi). Dulu pihak perempuan memandang “sumange-nya sebagai bentuk kehormatan. Sekarang, pihak perempuan (terutama paman dan saudara) memaksa pihak laki-laki yang akan menikah untuk membayar sejumlah böwö, tapi bukan semata-mata sebagai sumange (penghormatan) melainkan sebagai modal. Praktek ini telah mereduksi makna perwainan di Nias.

Perkawinan seolah-olah menjadi saat mencari keuntungan finansial. Artinya, perkawinan semakin menenggelamkan masyarakat Nias dalam mentalitas yang lebih mengagungkan harta benda daripada perempuan Nias (bdk. Iustitia in Mundo, art. 50). Hal ini sering terjadi. Misalnya, jika paman memperoleh 2 juta. Maka uang itu digunakan untuk menyambung hidupnya. Begitu teganya pihak paman. Ia memiliki modal sedang keponakannya mati kelaparan. Dulu juga sering terjadi bahwa pihak laki-laki yang akan menikah “memaksa” fadono-nya untuk menanggung böwö -nya sesuai tanggung jawab yang telah dijelaskan saat fanika era-era (saat dimana warga adat dan warga kampung, beserta ketua adat menasehati dan memberitahu kepada laki-laki utang-utang yang akan ia bayar. Utang-utang itu berlaku hingga 3 keturunan).

Dalam praktek ini, jika dilihat secara ontologi lama, penerapan böwö itu selalu memakan korban. Pihak laki-laki memaksa fadono-nya demi lancarnya pesta perkawinan tanpa memperhatikan kemampuan fadono-nya dalam membayar böwö. Perkawinan di Nias mesti dilihat dalam terang onotologi baru. Dalam arti, tidak perlu selalu mengikuti mitos leluhur yang selalu ujung-ujungnya mengekang kebebasan perempuan Nias. Penerapan böwö dalam perkawinan Nias mesti mempertimbangkan segala permasalahan yang ada dan yang terus timbul.

3. Secara antropologi

Dalam konteks antropologi, perkawinan di Nias tentu demi memanusiakan masyarakat Nias. Maka orang yang telah menikah disebut notobali niha (telah menjadi manusia), ya’ia nomo mbumbu nomo (ia membuat rumahnya sendiri, mandiri). Saya yakin leluhur Nias membuat hukum adat untuk masyarakat Nias dan bukan masyarakat Nias untuk hukum adat. Sisi humanitas (antropologis) dalam adat perkawinan Nias misalnya, semakin mempererat tali persaudaraan antara pihak perempuan, warga adat dan warga kampung serta paman dan handai taulan. Akan tetapi, karena cara berpikir yang statis, memandang perkawinan Nias hanya sebatas untuk mencari keuntungan finansial (sudut pandang antropologi lama) maka keluhuran nilai-nilai budaya itu sendiri menjadi hambar.

Perkawinan di Nias telah melahirkan ketidakadilan. Perempuan menjadi pihak yang tertindas, karena menanggung utang. Oleh karena itu, sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk hadir membantu mereka (perempuan Nias) mengalami kebebasan dari ketertindasan (bdk. Iustitia in Mundo, art. 5). Sekarang, secara antropologis, penerapan böwö yang tidak sesuai dengan konteks zaman dan kemampuan pihak yang akan Nikah, justru böwö itu semakin tidak memanusiawikan masyarakat Nias. Maka, penerapan bowo melupakan tanggung jawab yang paling besar yakni bagaimana agar kedua mempelai sungguh-sungguh bertumbuh, berkembang dan menjadi keluarga bahagia sejahtera yang mampu menghidupi anak-anaknya (sudut pandang antropologi baru).

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan istri yang hanya berkutat membayar pinjamannya (untuk membayar böwö). Bagaimana mungkin mereka dapat menikmati suasana keluarga bahagia? Bagaimana mungkin mereka mampu menyejaterakan anak-anaknya. Ini adalah problem antropologis atau humanitas. Mengembalikan Makna Sejati Böwö Jika ditelusuri etimologi böwö, maka makna böwö sangatlah luhur. Sebab böwö bisa diartikan sebagai fame’esa (pemberian cuma-cuma). Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb., lalu kita beri fegero (makanan, baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat hajatan itu kita beri juga kepada tetangga kita secara cuma-cuma) kepada tetangga kita. Ini adalah aktualisasi kepekaan untuk selalu memperhitungkan orang lain di sekitar kita. Untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang sering memberi fegero sebagai niha soböwö sibai.

Jadi, arti sejati böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya! Dengan menikahkan anaknya, orangtua telah menyatakan kasihnya kepada anaknya. Maka, praktek böwö seharusnya mewujudkan makna sejati böwö ini.

Catatan kaki

1. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/feminisme, diakses 15 September 2009.

2. Lihat http://www.esterlianawati.wordpress.com, diakses 4 September 2009.

3. Lihat Dermot A. Lane, Foundations for a Social Theology: Praxis, Process and Salvation, New York: Paulist Press, 1984.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: