MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 57,686 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

    La voie lactée

    • A Storm At Sea For The Birds And Me •

    More Photos

Tawaran Perdamaian: Dari Immanuel Kant Menuju Robert J. Schreiter

Posted by Postinus Gulö on November 3, 2007

Oleh Fr. Postinus Gulö OSC *

Catatan Redaksi:

Makalah ini dipresentasikan penulis pada Sidang Akademik di Biara Skolastikat Ordo Sanctae Crucis, Pratista Kumara Warabrata, Bandung pada tanggal 31 Oktober 2007.

Pengantar [1]

 Dewasa ini, kekerasan, perang, teror, pembunuhan semena-mena terjadi di mana-mana. Tentu, semuanya ini adalah akibat dari kepentingan egois-destruktif bahkan karena manusia terlalu memelihara rasa dendam, tidak mau mengampuni. Almarhum Paus Johanes Paulus II adalah teladan bagi kita: ia manusia pengampun. Dan, beliau menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah manusia pengampun: ia mengunjungi Ali Agca, seorang lelaki yang pernah menembaknya. Beliau ingin menyapa dunia bahwa rekonsiliasi begitu penting.

Pertanyaan yang segera kita jawab adalah apa gunanya menjadi manusia pada situasi yang seolah kian keras ini? Ya, menjadi manusia pada zaman sekarang adalah menjadi subjek yang menuliskan sejarah, menciptakan tatanan dunia baru yang layak huni: a place where we have not been before.[2] Selain itu, menjadi agen rekonsiliasi dan the new humanity.

Dalam makalah ini, saya menguraikan perdamaian (rekonsiliasi) ideal dalam situasi umat manusia di era globalisasi yang notabene terus berkubang dalam situasi perang, penindasan, kebencian, eksploitasi, permissivisme, fanatisme, kecurigaan, keegoisan, kemiskinan. Dalam makalah ini, saya memfokuskan diri untuk menilik gagasan tokoh intelektual: Robert J. Schreiter[3] dan Immanuel Kant.[4]

Immanuel Kant  memakai istilah friede(n) (yang bisa diartikan sebagai perdamaian, pembebasan). Kata sifatnya adalah friedlich atau friedliebend (cinta damai). Awalnya, saya berpikir: tawaran perdamaian Immanuel Kant pasti dahsyat dan praktis-kini. Tetapi ternyata, perdamaian a la Immanuel Kant justru tendensinya adalah bagaimana mencegah terjadinya ketidak-damaian secara moral dan politik-praktis, strategis dan rasional. Jadi, perdamaian dilihat sebatas wacana utopis-filosofis. Itu sebabnya, judul bukunya adalah Zum Ewigen Frieden (Menuju Perdamaian Abadi). Seolah-olah perdamaian itu jauh di depan mata, maka perdamaian terjadi “nanti”. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana mendamaikan situasi sekarang ini, yang terus tenggelam dalam samudra kekerasan. Sekarang yang kita butuhkan adalah bagaimana mendamaikan pelaku kejahatan dan korban kejahatan sehingga mereka dapat saling “menyapa” kembali. Nah, yang bisa menjawab ini adalah gagasan Robert J. Schreiter.

Robert J. Schreiter bertitik tolak dari situasi konkret, lalu mencari solusi bagaimana mengobati luka korban sekaligus bagaimana caranya agar terjadi rekonsiliasi antara pelaku kejahatan dengan korban kejahatan. Gagasan Schreiter lebih sesuai dengan istilah rekonsiliasi, yang berasal dari bahasa Latin: reconsiliatio, kata kerjanya adalah reconciliare yang berarti membangun kembali, membawa kembali, memperbaharui, merukunkan. Dalam bahasa Yunani, rekonsilasi disebut katalassein (istilah ini sering dipakai Rasul Paulus dalam surat-suratnya). Dalam istilah katalassein, rekonsiliasi adalah berubah sikap. Bagi Schreiter, rekonsiliasi (atau dalam bahasa Kant: friede), lebih pada bagaimana membangun kembali tatanan yang telah rusak antara pelaku dan korban kejahatan. Dan, bagaimana menyembuhkan kedua pihak yang bertikai sehingga mereka kembali menjadi manusia ciptaan baru. Dalam ulasan-ulasan selanjutnya, Schreiter berulang-ulang menekankan bahwa rekonsiliasi bukan semata-mata strategis (usaha manusia) melainkan sebagai spiritualitas: rekonsiliasi adalah karya Allah, cara hidup dan pengampunan. Jadi, tawaran perdamian Immanuel Kant tidak cukup, kita mesti menuju pada gagasan rekonsiliasi Robert J. Schreiter!

Banyak klaim yang mengatakan bahwa manusia berbeda dengan binatang ternyata kelakuan manusia sangat binatang, tidak manusiawi. Perang Saudara di Rwanda, Perang Rasial Apartheid di Afrika Selatan, kebejatan Nazi dan Komunis, Perang Dunia I dan II cukup melukiskan bagaimana manusia berubah menjadi serigala ganas yang siap menerkam.[5] Melihat situasi yang serba kelam tersebut, maka kita tidak heran jika Robert J. Schreiter pernah melontarkan ucapan sinis: abad kedua puluhan adalah abad yang ditaburi tindak kekerasan. Lebih dari 100 juta orang telah musnah akibat perang, pertikaian, penyiksaan, pemenjaraan, genosida, dan penindasan.[6]

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa betapa perdamaian sedang dalam situasi sulit. Perdamaian seolah tak dilirik sehingga ia tak dapat unjuk gigi. Walaupun demikian, sebagai insan yang berpikir dan berusaha melakukan segala macam usaha demi menciptakan suasana kondusif, maka perdamaian tetaplah layak kita usung. Kecarut-marutan hanyalah dapat diatasi jika setiap individu dan kelompok sosial pro-rekonsiliasi atau pro-perdamaian.

1. Perdamaian dalam perspektif Immanuel Kant: Sebagai Strategi 

Konteks pemikiran Kant adalah Eropa, yang berkubang dalam peperangan. Perang tersebut mengakibatkan penderitaan dan kemiskinan yang mengerikan. Seolah manusia tak memiliki hati nurani dan tak bermoral! Oleh karena itu, bagi Immanuel Kant, perdamaian merupakan persoalan moral individu. Setiap orang mampu bertanggung jawab jika ia memiliki moralitas. Moral lahir dalam diri manusia karena manusia mampu berpikir. Dengan kata lain, Kant memandang perdamaian bukan soal politik yang bersifat publik melainkan soal moral individu. Perdamaian abadi terjadi jika manusia memiliki kehendak yang tulus. Kant yakin bahwa perdamaian abadi itu mungkin terjadi, tetapi hanya dapat dicapai melalui kebijakan politik yang menempatkan diri di bawah paham “kewajiban hukum murni” atau ada prinsip taat pada hukum.[7] Kant, mengakui bahwa sifat alami manusia adalah perang, tetapi hukum moral-lah yang membuat umat manusia berdamai. Dari gagasan ini, saya melihat bahwa Kant sangat mengagumi penerapan supremasi hukum yang benar, adil, bermoral dan universal.  

1.1 Hukum-Hukum Fundamental: Strategi Menciptakan Perdamaian [8]

Pertama, tidak boleh ada perjanjian perdamaian yang memiliki maksud terselubung. Maksud terselubung, misalnya, melakukan perjanjian perdamaian demi mempersiapkan perang di masa depan. Nah, jika demikian, pejanjian tersebut tidak ada bedanya dengan penangguhan sikap permusuhan atau gencatan senjata, yang sesungguhnya perang masih akan berlanjut. Padahal, kata Kant, perdamaian berarti akhir dari sikap permusuhan.

Kedua, tidak boleh menghancurkan negara-negara berdaulat. Kant dengan tegas mengatakan bahwa tidak boleh ada negara berdaulat yang dapat diperoleh negara lain melalui pewarisan, pertukaran, pembelian atau pemberian. Sebuah negara berdaulat bukanlah hak milik. Ia adalah suatu masyarakat manusia yang tidak boleh diatur dan dikuasai oleh orang lain.

Ketiga, tidak dibenarkan perlombaan persenjataan. Tentara tetap (miles pepetuus) harus dihapuskan secara berangsur-angsur. Sebab, tentara terus-menerus mengancam negara lain dengan perang melalui kesiapan mereka untuk melakukan perang (perlombaan persenjataan). Kant melihat bahwa kehadiran tentara mendorong negara-negara untuk saling mengungguli dalam hal jumlah tentara yang dipersentai tanpa mengenal batas. Dan , karena tingginya biaya yang harus dibayar pada akhirnya perdamaian akan lebih sulit direalisasikan. Tentara, menurut Kant, adalah penyebab terjadinya perang agresi demi mengatasi beban biaya yang tinggi. Akibatnya, tentara menerima keadaan untuk membunuh dan dibunuh. Jadi,  manusia digunakan semata-mata sebagai mesin dan alat oleh tangan negara atau pemerintah. Menurut Kant, ada tiga kekuatan yang dapat mendorong pecahnya perang: kekuatan militer, kekuatan persekutuan dan kekuatan uang yang notabene instrumen perang yang paling andal.

Keempat, tidak boleh dibenarkan tindakan pembuatan utang oleh negara tertentu untuk membiayai perang.

Kelima, negara yang secara paksa mencampuri konstitusi dan pemerintahan negara lain tidak boleh dibenarkan. Mengapa? Karena hal demikian membuat otonomi sebuah negara tidak aman. Bahkan bisa jadi dirusak oleh negara lain yang memang punya kepentingan politik, ekonomi dan sosial.

Keenam, berperang dengan memakai pembunuhan gelap, pembunuhan racun, melanggar syarat-syarat kapitulasi tidak boleh dibenarkan. Tidak boleh ada negara yang sedang berperang dengan negara lain mengizinkan sikap-sikap permusuhan yang akan menutup kemungkinan munculnya rasa saling percaya di masa perdamaian yang akan datang. Sikap permusuhan ini melingkupi pemanfaatan pembunuhan bayaran (percussores), penggunaan racun untuk membunuh (venefici), pelanggaran kapitulasi, hasutan untuk berkhianat (perduellio) terhadap negara lain.

1.2 Hukum-hukum Definitif untuk Perdamaian Abadi Antarnegara [9]

Menurut Kant, perdamaian abadi bukan keadaan alami (non status naturalis) melainkan harus diciptakan melalui ketetapan hukum agar kehadiran seseorang tidak menjadi ancaman. Keadaan alami adalah perang. Menurut Kant, ada tiga pasal (hukum) definitif untuk menciptakan perdamaian abadi antarnegara.

Pasal pertama: [10] Konstitusi sipil setiap negara seharusnya berupa republik. Hanya negara yang bersifat republik yang dapat menciptakan perdamaian abadi, karena ia adalah negara hukum demokratis. Konstitusi negara republik-demokratis harus dibangun  berdasarkan tiga prinsip. a) kebebasan setiap anggota masyarakat sebagai manusia; b) berdasarkan ketergantungan semua terhadap suatu perundang-undangan umum (rakyat sebagai objek); c) berdasarkan hukum persamaan hak (sebagai warga negara). Dalam negara republik, pemerintah adalah wakil rakyat.[11] Negara republik ideal menurut Kant adalah kebijakan politik ditentukan menurut kehendak para warga negara dan bukan menurut kehendak seorang “despot” (dictator). Lawan dari negara republik adalah Negara despotis. Republikanisme adalah prinsip kenegaraan yang memisahkan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sedangkan despotisme adalah prinsip pelaksanaan kekuasaan sendiri oleh negara atas undang-undang yang dibuatkanya sendiri. Jadi, dalam depotisme, rakyat akan diatur oleh penguasa sesuai dengan kehendaknya sendiri (otoriter). 

Pasal kedua:[12] Hukum bangsa-bangsa harus didirikan di atas suatu federasi negara- negara merdeka. (Dalam negara federasi, saya, misalnya, bukan lagi warga negara Indonesia melainkan warga negara dunia). Bangsa-bangsa sebagai negara dinilai seperti individu-individu yang dalam keadaan alaminya sudah saling melukai dengan kehidupan mereka yang berdampingan. Oleh karena itu, demi ke-aman-an, setiap negara dapat dan dianjurkan menuntut negara lain untuk mengikat dirinya dalam sebuah konstitusi yang mirip konstitusi sipil yang dapat menjamin hak-hak tiap-tiap pihak. Ini dapat berupa sebuah perserikatan bangsa-bangsa (völkerbund) dan bukan pemerintah bangsa-bangsa (völkerstaat). Jika Negara-negara ingin mencapai perdamaian harus membentuk sebuah serikat (konfederasi) yang diikat oleh hukum bangsa-bangsa (hukum internasional). Tujuan dari pasal kedua ini adalah untuk mencegah perang dan untuk mempertahankan negara yang berdaulat (otonom). 

Pasal ketiga:[13] Hukum warga dunia harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal. Orang asing selalu harus disambut baik sebagai tamu (sikap hospitalitas), tetapi mereka tidak boleh menetap karena hal itu akan mengakibatkan ketegangan-ketegangan yang berlebihan dan dengan demikian akan mengancam perdamaian. Orang asing yang menempatkan dirinya dengan damai, tak seorangpun yang boleh memperlakukannya sebagai musuh. Prinsip keramahtamahan yang dimaksud oleh Kant adalah, menekankan pada hak singgah atau berkunjung, hak menawarkan diri untuk bergabung dengan orang lain yang notabene suatu hak yang layak dimiliki semua orang karena kepemilikan mereka bersama atas permukaan bumi, tempat, dunia. Artinya, mereka (pendatang) tidak dapat secara tak terbatas menempati daerah yang mereka inginkan dan oleh karena itu mereka harus bertoleransi dengan keberadaan masing-masing juga. Pada awalnya, tak seorangpun mempunyai hak yang lebih dari orang lain atas satu bagian bumi. Jadi, Kant mengutuk kolonialisme.

Kant yakin bahwa alam menghendaki kebenaran (perdamaian, keharmonisan) pada akhirnya menang. Oleh karena itu, Kant pernah berkata, “susunlah konstitusi Negara yang netral dari agama dan moral sehingga tidak menjerumuskan rakyat pada konflik moral ataupun agama, melainkan memperhitungkan bagaimana mekanisme alam (tanpa paksaan) mengatur hubungan antarindividu.”[14]  

Menjaga perdamaian, kata Kant, merupakan kepentingan semua negara republik-federasi. Alasan sejauh mana perdamaian menjadi kepentingan semua orang. Pertama, berdasarkan hukum hukum negara. Manusia secara alami mendukung tatanan hukum karena ia takut terhadap situasi anarkis. Kedua, berdasarkan hukum bangsa-bangsa. Perdamaian menghasilkan keseimbangan antara bangsa-bangsa yang saling berlomba. Ketiga, berdasarkan hukum warga dunia. Perdamaian menguntungkan perdagangan perang dan sebaliknya, bagi perdagangan, perang merugikan.

1.3 Hubungan antara moralitas dan politik [15]

Menurut Kant, moralitas dan politik tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Kejujuran (dimensi moral) adalah politik terbaik. Perdamaian sejati mengandaikan kehendak moral untuk tetap berdamai sehingga mekanisme alam dapat mengarahkan kecenderungan-kecenderungan egois manusia ke penjagaan perdamaian.

Kant, menegaskan harmoni antara politik dan moralitas. Hubungan harmoni antara politik dan moralitas, memungkinkan manusia untuk memastikan apakah pertimbangan yang akan mendasari tindakan politik secara moral dapat diterima atau tidak. Tolok ukur itu adalah publisitas. Apabila pertimbangan-pertimbangan itu tidak dapat dibuka terhadap masyarakat luas, pertimbangan-pertimbangan itu secara moral tidak dapat dibenarkan dan tindakan itu secara moral dilarang. Sebaliknya, semua pertimbangan yang hanya dapat mendasari tindakan politis apabila semua pertimbangan dibuka kepada publik, secara moral bersifat benar. Kebijakan politik yang mendasarkan diri pada pertimbangan yang harus menghindar dari sorotan publik, secara moral bersifat jahat.

Perdamaian baru bisa menjadi nilai unggul yang secara efektif mengalahkan tujuan-tujuan politik lain apabila keputusan tentang perang atau damai diambil oleh para warga negara yang terkena sendiri (korban), dan bukan oleh seorang diktator yang lolos dari akibat-akibat buruknya. Pendeknya, tanpa kehendak moral niscaya perdamaian hanya tergantung dari perhitungan untung-rugi para pemimpin kegara dan karena itu mandeg di tingkat “perlucutan senjata”. Menurut Kant, untuk membuat warga negara tidak berperang, mereka tidak perlu dikhotbahi, cukup dengan membuat hukum yang berlaku secara universal. Para warga negara akan membawa diri lebih baik apabila negara diorganisasikan secara bijaksana, teratur, dan baik.

 

2. Rekonsiliasi dalam Perspektif Robert J. Schreiter: Bukan Hanya sebagai Strategi Melainkan Sebagai Spritualitas

Gagasan Immanuel Kant berbeda dengan gagasan Robert J. Schreiter. Bagi Schreiter rekonsiliasi bukan semata-mata strategi melainkan juga sebagai spiritualitas. Proses rekonsiliasi bukanlah sekedar usaha untuk memecahkan persoalan tetapi rekonsiliasi mesti dilihat sebagai karya Allah.

Robert J. Schreiter mau memecahkan pertanyaan: bagaimana kita bisa mengusahakan rekonsiliasi dengan seseorang yang tidak sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan apapun? (“how do you seek reconciliation with someone who does not think he has done anything wrong?”).[16] Konteks rekonsiliasi Schreiter adalah Eropa, Amerika Latin, Afrika Selatan, dan Asia. Di belahan dunia tersebut terjadi kekerasan dalam tiga bentuk. Pertama, peperangan antarnegara. Kedua, peperangan antarbudaya dan antarideologi dalam Negara (Perang Saudara). Ketiga, ideologi kolonialisme dan rasisme yang membentuk struktur kekerasan dengan menopeng diri sebagai agen perdamaian.[17] Yang perlu diingat, kata Schreiter, tidak mungkin korban kembali seperti situasi sebelum mengalami kekerasan. Apa yang pernah dialami tertanam dalam ingatan manusia.

Robert J. Schreiter mengatakan bahwa Gereja mesti menjadi agen rekonsiliasi. Namun, sejarah berbicara lain, Gereja, justru pernah berpihak secara tidak langsung dengan para penindas: di Cekoslavakia, Perancis dan Hungaria para pastor turut dalam kelompok “perdamaian” dan didukung rezim komunis.[18] Komunis, pada kenyataannya menindas, memakai cara-cara kekerasan, balas dendam. Dengan kata lain, dengan bergabung pada gerakan komunis, berarti kita (secara tidak langsung) melegalkan sikap-sikap komunis yang menindas itu. Pada tanggal 1 Maret 1954, Paus Pius XII, melarang pastor pekerja, yang mengabdikan hidupnya untuk terlibat dalam organisasi buruh. Mengapa? Salah satu alasannya adalah karena para buruh tersebut juga adalah penganut paham komunis.

2.1 Beberapa Dasar Biblis Rekonsiliasi

Menurut Schreiter dalam Surat Paulus terdapat dasar biblis rekonsiliasi yakni Surat Paulus ke Roma, 2 Korintus, Surat Kolose dan Efesus. Dari surat-surat Paulus ini, teologi rekonsiliasi ada tiga level.[19] Pertama, level Kristologis. Dalam level ini, Kristus adalah mediator bagi Allah untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya. Kedua, level eklesiologis, yang di dalamnya Kristus mendamaikan orang Yahudi dan bukan Yahudi (Gentile). Ketiga, level kosmis, yang di dalamnya Kristus mendamaikan semua kekuatan, baik di surga maupun di bumi. Robert J. Schreiter sering mengulang-ulang bahwa rekonsiliasi adalah karya Allah. “…God who reconciles us to God’s self; it is not a human work.” [20] Pernyataan ini jelas-jelas adalah perkataan Paulus. Paulus yakin bahwa Allah – melalui Kristus – mendamaikan kita dengan diri-Nya (lihat Rm 5: 10-11, 2 Kor 5: 18-19). Dengan kata lain, Allah mengadakan rekonsiliasi melalui Kristus. Dan, Allah yang berinisiatif dan yang melakukan rekonsiliasi. Rekonsiliasi tersebut terlaksana dalam kematian Kristus. Jadi, segala sesuatu didamaikan melalui Kristus. Selain dari Surat Paulus, terdapat juga dalam Injil[21], antara lain: Pertama, Mrk. 16: 1-8; Yoh 20:1-18. Kedua, Luk 24: 13-35. Ketiga, Luk 24: 36-49; Yoh 20: 19-23. Keempat, Yoh 20: 24-29. Kelima, Yoh 21: 1-17. Dalam Injil ini, ditonjolkan bagaimana Yesus sebagai korban menjadi agen rekonsiliasi: menampakkan diri kepada para murid, makan bersama dengan mereka. Pendeknya, Yesus menyapa korban dengan penuh hospitalitas, membuat para murid at home bersama-Nya.

2. 2 Wajah Rekonsiliasi

            Robert J. Schreiter mengatakan bahwa ada dua wajah (two faces) rekonsiliasi. Pertama, rekonsiliasi sosial. “Social reconsiliation has to do with providing structures and processes whereby a fractured society can be reconstructed as truthful and just…providing some measure of reparation to victims. It must create a secure space and an atmosphere of trust that makes civil society possible.”[22] Jadi, yang ditekankan dalam rekonsiliasi sosial adalah bagaimana menciptakan struktur dan proses yang notabene memberi peluang terhadap terbangunnya masyarakat yang kacau, retak melalui cara yang adil dan benar. Dalam proses ini, pelaku kejahatan mesti dihukum dan menyediakan ganti rugi bagi mereka yang menjadi korban.[23] Dan, yang melakukan ini adalah pemerintah. Selain itu, dalam rekonsiliasi sosial yang diusahakan adalah merekonstruksi tatanan moral dan masyarakat. Menyusun undang-undang yang memberi rasa aman kepada rakyat bahwa di masa yang akan datang tidak terjadi lagi kekerasan, sehingga ada kemauan untuk menciptakan new society.  Di sini pemerintah mesti membangun tatanan pemerintahan yang melindungi hak azasi manusia dan menekankan keadilan dan moralitas.

Kedua, rekonsiliasi spiritual. “It (spiritual reconciliation) has to do with rebuilding shattered lives so that social reconciliation becomes a reality.”[24] Rekonsiliasi ini dimungkinkan oleh lembaga agama: menyembuhkan luka batin. Pemerintah dapat memberi amnesty tetapi tidak dapat menjamin adanya pengampunan. Di sini, Robert J. Schreiter mau mengatakan bahwa terjadinya rekonsiliasi bukan semata-mata karena usaha manusia. Rekonsiliasi sejati berasal dari Allah. Oleh karena itu, terjadinya rekonsiliasi disebabkan oleh campur tangan Allah. Itu sebabnya, rekonsiliasi bagi Kristen memiliki ritus sebagai sebuah sakramen.

            Harus diakui bahwa rekonsiliasi bukanlah “pekerjaan” yang gampang. Rekonsiliasi tersebut tidak hanya menyangkut sosial tetapi juga individu atau personal, kata Robert Schreiter.[25] Dalam rekonsiliasi individual atau personal yang diusahakan adalah bagaimana memulihkan rasa percaya korban dengan merestorasi kemanusiaan korban yang telah rusak. Menyembuhkan traumatik. Pihak ketiga dibutuhkan untuk mendengarkan cerita-cerita korban. Rekonsiliasi individual merupakan prasyarat terjadinya rekonsiliasi sosial. Nelson Mandela adalah sosok yang mengalami rekonsiliasi individual: dibebaskan dari penjara. Dan, kemudian, ia memperjuangkan keadilan dan menjadi agen rekonsiliasi sosial di Afrika Selatan. Merestorasi pribadi yang terluka membutuhkan kesediaan komunitas di mana korban tinggal. Komunitas tersebut mesti memberi rasa aman (safety), bersedia mendampingi (accompanying), menciptakan suasana yang mencerminkan hospitalitas. Pendeknya, agen rekonsiliasi mesti membawa korban ke new place, suasana baru.

Rekonsiliasi individual dan rekonsiliasi sosial akan menjadi lancar jika dibentuk Truth and Reconciliation Commissions, seperti yang pernah dilakukan di Afrika Selatan.[26] Dalam komisi ini, korban dan pelaku mesti dipertemukan. Tujuannya adalah agar korban menceritakan apa yang pernah ia alami dan pelaku diminta untuk menceritakan apa yang pernah ia perbuat. Terhadap kedua belah pihak dibutuhkan sikap terbuka dan kejujuran (truth-telling).[27] Menurut I. Ismartono,[28] Truth and Reconciliation Commissions yang pernah diberlakukan di Afrika Selatan terdapat tiga kepanitiaan. Pertama, Human Right Violation Committee (Panitia Pelanggaran Hak-Hak Azasi Manusia). Pantian ini bekerja keras untuk mendengarkan penderitaan para korban (cari fakta). Kedua, Amnesty Committee (Panitia Pengampunan) yang terdiri dari ahli hukum, jaksa, dan sebagainya yang diberi otonomi oleh Komisi. Ketiga, Reparation Committee (panitia santunan) yang bertugas untuk membantu korban dalam menentukan berapa besar santunan dapat diterima.

2. 3 Ada 3 Fase Proses Rekonsiliasi [29]

Mencapai dan menciptakan rekonsiliasi bukanlah cita-cita dan tugas yang gampang. Hal itu bisa kita lihat dari tiga fase-fase proses terjadinya rekonsiliasi. Ketiga fase ini dikutip oleh Schreiter dari gagasan Daan Bronkhorst yang bekerja di lembaga Amnesty International, pada pertengahan tahun 1990-an.  

Pertama, genesis phase. Korban menyadari diri sebagai manusia bebas sehingga bergerak dan bertindak melawan para penindas. Dalam fase ini, ada pergeseran kekuatan dan pergeseran tersebut lahir dari kesadaran korban. Dalam fase ini lahirlah gerakan militan yang bertujuan untuk mengakhiri penindasan, tapi sebenarnya anggota militan ini menindas juga. Jadi, ada kesadaran untuk keluar dari situasi tertindas tapi para korban belum siap merencanakan pembangunan masa depan yang lebih baik.

Kedua, transformation phase. Keruntuhan tembok pemisah: Tembok Berlin dan dibebaskannya Nelson Mandela dari penjara merupakan peristiwa simbolik yang menandai terjadinya transformasi. Dengan kata lain, dalam tahap ini pemerintah lama diganti dengan pemerintah baru demi mencapai re-unifikasi.

Ketiga, readjustment phase (penyesuaian kembali). Dalam tahap ini yang ditekankan adalah bagaimana membangun kembali tatanan yang telah rusak. Tatanan sosial mesti dibangun demi menemukan the new society. Harus diakui bahwa dalam tahap inipun, masih terjadi ketegangan antara penindas dan korban, dan tentu memakan korban lagi. Untuk merestorasi tatanan masyarakat, pemerintah mesti menghukum para penindas dan para penindas mesti memberi ganti rugi kepada korban.[30]

2. 4 Pemahaman Kristiani Tentang Rekonsiliasi

Dari Surat-Surat Paulus (Roma, 2 Korintus, Surat Kolose dan Efesus), Robert Schreiter meringkaskan pemahaman Kristen tentang rekonsiliasi ke dalam 5 gagasan.[31]

Pertama, Allah yang berinisiatif dan yang membawa rekonsiliasi. Sumber rekonsiliasi datang dari Allah dan yang mengarahkan kita kepada rekonsiliasi adalah Allah. Pendeknya, rekonsiliasi adalah karya dan hadiah dari Allah: “reconciliation is ultimately the work of God and the gift of God.[32] Manusia sebagai citra Allah diundang untuk bekerja sama dalam proses rekonsiliasi. Allah yang berinisiatif melakukan rekonsiliasi dalam diri korban. Oleh karena itu, yang harus memulai rekonsiliasi adalah korban. Korban dipanggil untuk berbalik kepada Allah, dan mengalami rahmat perdamaian Allah agar korban bisa menjadi agen rekonsiliasi. “…the victim is the one who begins the process of reconciliation, the victim  is called upon to turn to God and experience God’s reconciling grace, and so, himself or herself, to become the agent of reconciliation.”[33] Penyesalan datang dari para penindas namun rekonsiliasi dan pengampunan mesti datang dari para korban.[34] Yang memulihkan para korban adalah rahmat Allah. Karenanya, para korban mesti turut menyembuhkan para penindas, dengan memberikan pengampunan yang mendorong pertobatan para penindas.[35]

Kedua, rekonsiliasi dilihat sebagai spiritualitas dan bukan sekedar strategi.[36] Artinya, proses rekonsiliasi bukan semata-mata hanya dipandang sebagai pemecahan problem secara teknis dan rasional. Yang menentukan keberhasilan adalah daya spiritualitas: Allah adalah aktor utama pendamai (di dan dalam) dunia. Dengan demikian, “pengampunan” bukanlah hak. Allah yang menganugerahkannya secara cuma-cuma kepada kita. Semua orang  dipanggil untuk menjadikan rekonsiliasi sebagai cara hidup dan bukan semata-mata tugas.

Ketiga, rekonsiliasi membuat korban dan penindas menjadi manusia ciptaan baru. Rekonsiliasi bukan sekedar merestorasi melainkan bagaimana kedua pihak yang bertikai sungguh menempati tempat baru, yang belum pernah mereka tempati sebelumnya.

Keempat, cerita baru yang mengatasi cerita tentang kebohongan adalah cerita tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Allah melaksanakan rekonsiliasi melalui kematian Putra-Nya. Tubuh, darah dan salib Kristus merupakan simbol pembebasan dari penderitaan, kematian. Sedangkan kebangkitan Yesus menyatakan “new place”. Dan, mereka yang didamaikan di tempat baru ini berharap menemukan dirinya.

Kelima, rekonsiliasi adalah realitas yang multidimensi. Rekonsiliasi tidak hanya mencakup rekonsiliasi Allah. Rekonsiliasi memiliki dimensi lain, dimensi kosmis yang hanya dapat dipahami secara samar-samar.

2.5 Pelayanan Rekonsiliasi

2.5.1 Korban Sebagai Agen Rekonsiliasi

Saat Yesus wafat, para murid tercerai berai. Mereka adalah orang-orang “terluka dan frustrasi” karena ditinggal sang Guru. Yang menarik adalah Yesus kembali kepada mereka (menampakkan diri). Dalam Yoh 20: 24-29 [37] diceritakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada Thomas. Yesus yang notabene adalah korban kemudian menjadi agen rekonsiliasi. Yesus tidak mencerca Thomas ketika Thomas tidak percaya pada-Nya. Yesus malah mengajak Thomas untuk menyentuh luka-Nya. Peristiwa tersebut yang membuat Thomas berkata: “My Lord and my God”. Yesus tidak menyembunyikan lukanya melainkan membuka lukanya. Robert J. Schreiter menafsir hal ini sebagai tindakan keterbukaan. Tidak memandang masa lalu sebagai aib. Oleh karena itu, para korban kekerasan mesti membuka diri, menceritakan kembali luka lama mereka. Yesus menjadikan lukanya sebagai sarana rekonsiliasi: sentuhlah luka-Ku!

Model pelayanan rekonsiliasi yang lain ditunjukkan Yesus dalam Yoh 21: 1-17.[38] dalam kutipan Injil ini dikisahkan bahwa Yesus menampakkan diri kepada para murid di tepi Danau Tiberias, dan mengajak para murid untuk sarapan. Makan bersama (food come together) merupakan tindakan kesediaan Yesus mendampingi para murid yang notabene orang-orang terluka. Dengan makan bersama, mengambil roti, Yesus mau mengingatkan para murid akan masa lalu sebelum Ia wafat. Jadi, rasa trauma para murid dipulihkan oleh Yesus yang notabene adalah korban kekerasan bangsa Yahudi.  Dalam sarapan tersebut ada suasana yang menciptakan hospitalitas: mari kita sarapan pagi. Robert J. Schreiter mengatakan bahwa “the ministry of reconciliation begins with a careful but intence accompanying of victims.”[39] Orang Kristen dipanggil menjadi pelayan rekonsiliasi dengan mendampingi para korban dan bersedia memberi rasa aman kepada mereka. Rasa aman ini penting: safety is the basis of the rebuilding of trust.[40] Dalam pendampingan tersebut, diberi harapan kepada korban bahwa di masa yang akan datang tidak akan terjadi lagi situasi kelam seperti masa silam.[41]

2.5.2 Spiritualitas Rekonsiliasi [42]

Menurut Robert J. Schreiter, ada tiga karakter ideal pelayan rekonsiliasi yang mencirikan spiritaulitas rekonsiliasi.

Pertama, sikap mendengar (sharing korban) dan menunggu. Para korban mesti menceritakan kisah hidup agar mereka mereka keluar dari cerita kebohongan. Jadi, pelayanan rekonsiliasi pada point pertama ini adalah pelayanan mendengarkan. Pelayan yang pernah mengalami rekonsiliasi akan menjadi pendengar terbaik dalam situasi ini. Para korban mesti disadarkan akan datangnya rahmat Allah yang membawa mereka keluar dari ilusi kebohongan. Dan, di sini diperlukan sikap menunggu.

Kedua, sikap perhatian dan keprihatinan. Menaruh perhatian bagi sesama adalah dasar dari keprihatinan. Keprihatinan (compassion) adalah kesediaan merasakan atau menderita bersama. Di sini pelayanan rekonsiliasi mesti mendampingi para korban.

Ketiga, bermental pasca-pembuangan. Yakni, bersedia membangun masyarkat baru di atas puing-puing masyarakat lama. Di sini membutuhkan hukum baru. Bagi Robert J. Schreiter, rekonsiliasi mesti mengalir dalam hati. Mereka yang diperdamaikan, rekonsiliasi adalah panggilan. Dan, mereka berpindah ke tempat yang baru sama sekali, dan mereka mendesak para penindas untuk bertobat dan mereka melayani dalam cara yang profetis.

3. Penutup dan Relevansi

Baik Immanuel Kant maupun Robert J. Schreiter sama-sama menggagas bagaimana terciptanya the new society. Mereka juga memiliki perbedaan cara pandang. Dalam perspektif Kant, perdamaian adalah semata-mata usaha manusia sebagai makhluk rasional dan otonom dengan menunjukkan sikap taat (rakyat), tulus dan jujur (pembuat hukum). Kant lebih pada bagaimana mencegah terjadinya perang (strategi). Dengan kata lain, perdamaian tersebut bersifat utopis. Sedangkan Robert J. Schreiter menempatkan rekonsiliasi bukan semata-mata sebagai strategi (tugas) melainkan juga sebagai karya Allah, spiritualitas atau cara hidup. Dalam perspektif semacam ini, rekonsiliasi merupakan sebuah pelayanan yang dilakukan terus-menerus dan setiap saat. Schreiter menekankan bahwa yang memulai rekonsiliasi adalah korban, sehingga dengan tindakan seperti itu para korban turut menyembuhkan para penindas dan membawanya ke pertobatan. Kita jangan menunggu pelaku kejahatan menyesali kesalahannya, karena pelaku kejahatan pada dasarnya tidak mau mengakui kesalahannya. Jadi, pertanyaan: “how do you seek reconciliation with someone who does not think he has done anything wrong?”, telah terjawab.

3.1 Relevansi Bagi Indonesia

Gagasan Immanuel Kant tentang perdamaian sangat relevan bagi Indonesia (saat ini) terutama dalam membangun struktur-struktur legal dan demokrasi. Salah satu relevansi khusus bagi Indonesia terdapat dalam pertimbangan-pertimbangan Kant tentang hubungan antara politik dan moralitas. Di Indonesia, hubungan politik dan moralitas sering dilihat secara berat sebelah. Pemerintah Indonesia cenderung meremehkan sikap batin moral. Bahkan kebijakan pemerintah Indonesia cenderung tidak pro-populi, terutama pada era Soeharto. Dalam uraian di atas, Kant memperlihatkan bahwa tanpa sikap batin, tanpa kehendak untuk berdamai (friedlich), tanpa kehendak untuk menyelesaikan konflik menurut apa yang benar dan adil, maka rekonsiliasi dan perkembangan positif masyarakat pada umumnya tidak akan tercapai.

Lebih jauh, Kant sebenarnya mengidealkan sebauh Negara yang terorganisasi dengan baik, struktur-strukturnya legal dan kondusif, undang-undang Negara harus jelas dan bersifat universal menjamin hak-hak warga Negara. Pemerintah mesti membuat konstitusi yang benar, adil, dan memungkinkan lahirnya kesejahteraan rakyat, ketentraman. Ide Kant ini perlu diadaptasikan di Indonesia. Sebab, penerapan hukum di Indonesia masih terasa timpang. Coba Anda bayangkan orang-orang yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Timur, Semanggi I dan I, Trisakti, dan banyak kasus lain, malah dibebaskan dari jerat hukum. Padahal, pencuri ayam bertahun-tahun mendekam dalam penjara, bahkan yang lebih sadis, mereka dihakimi massa hingga babak-belur. Dari kasus-kasus “mendunia” ini, terlihat jelas bagi kita bahwa hukum di Indonesia masih belum berjalan berdasarkan hakikat hukum itu sendiri.  

            Gagasan Robert Schreiter bisa diterapkan di Indonesia, terutama pengungkapan kembali luka masa silam. Pelaku kejahatan jangan dibiarkan begitu saja, seperti kasus Trisakti, Semangi I dan II, kasus PKI, kejahatan Soeharto. Pemerintah Indonesia mesti membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang benar-benar berfungsi untuk mengungkap kejahatan dan mau mendengarkan korban.

Lantas bagaimana Gereja? Ya, Gereja Indonesia juga mesti berpartispasi aktif menjadi pelayan rekonsiliasi. Robert J. Schreiter menekankan bahwa Gereja mesti menjadi pelayan rekonsiliasi (the ministry of reconciliation). Gereja Indonesia mesti mencontoh sikap Gereja Katolik Afrika Selatan, Chili, dan Filipina yang mendorong korban kejahatan untuk bersuara. Tidak hanya itu, Gereja mesti menolak cara-cara penindas yang melahirkan susana ketidak-damaian yang bisa mengancam stabilitas bangsa dan kerukunan sosial. Dalam ulasan-ulasan Schreiter, sikap gereja yang bisa dicontoh adalah Gereja Katolik Chili, yang memaklumkan diri menjadi agen rekonsiliasi, dengan mendirikan pusat-pusat rekonsiliasi bagi korban yang frustrasi parah. Gereja Katolik Chili, sangat paham bahwa justru fobia korban terhadap penindas bisa saja menjadi sumber pecahnya perang. Oleh karena itu, korban mesti disembuhkan agar daya amarah mereka menjadi daya cinta.

3. 2 Relevansi Dalam Komunitas (Biara)

Pertama, Kant menuntut pemerintah (superior) untuk membuat hukum yang merupakan representatif rakyat. Hukum ini mesti ditaati oleh rakyat. Nah, di biara, pembuat aturan mesti memperhatikan aturan yang ia buat apakah mampu menumbuhkembangkan anggota komunitasnya. Dan, anggota komunitas juga mesti menaati aturan dengan penuh kesadaran dan ketulusan.

Kedua, hospitalias a la Schreiter sangat dibutuhkan dalam kebiaraan. Hospitalitas di sini menekankan kesediaan untuk terbuka dan membuka diri. Yesus adalah analog yang pernah mempraktekkan hospitalitas. Ia hadir di tengah para murid, sarapan bersama mereka. Dan, para murid merasa at home dengan kehadiran-Nya.

Ketiga, hidup dalam komunitas tidak mungkin terhindar dari konflik. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk menjadikan “rekonsiliasi sebagai cara hidup (spiritualitas)”. Mereka yang merasa “dilukai” mestinya bersedia mengampuni orang yang melukainya. Dan, lebih lagi, anggota komunitas mesti saling mendengarkan, terbuka dan membagikan pengalamannya. Sehingga dengan demikian saling menguatkan. Semoga!


* Fr. Postinus Gulö OSC adalah biarawan Ordo Sanctae Crucis (OSC). Sekarang sedang mendalami ilmu filsafat dan teologi di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan,
Bandung (semester 7). 

 

Catatan Kaki:

[1] Makalah ini dipresentasikan penulis pada Sidang Akademik di Biara Skolastikat Ordo Sanctae Crucis, Pratista Kumara Warabrata, Bandung pada tanggal 31 Oktober 2007.

[2] Lihat Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order (New York: Orbis Books, 1992), hlm. 60

[3] Robert J. Schreiter adalah seorang anggota Jenderal Kongregasi Darah Mulia. Beliau adalah seorang profesor teologi dogmatik pada Catholic Theological Union, Chicago.  Beliau masih hidup sampai sekarang (2007).

 

[4] Immauel Kant adalah pemikir terpenting zaman Aufklärung (zaman pencerahan). Pendapat sentralnya di zaman pencerahan adalah Sapere Aude, berpikirlah sendiri. Beliau lahir pada 22 April 1724 di Königsberg. Ia banyak menulis buku dan artikel. Namun, di sini saya hanya menyebutkan satu karya tersohornya yakni Zum Ewigen Frieden yang berarti: Menuju Perdamaian abadi (1795). Tanggal 12 Februari 1804, Kant meninggal dunia.

[5] Sekarangpun masih kita rasakan dan saksikan kebejatan manusia. Teroris mengembom WTC pada 11 September 2001. Ribuan orang telah tewas mati konyol. Dan gara-gara itu, Amerika mengivansi Irak. Juga telah menelan ribuan orang (tewas). Poso bentrok. Pembunuhan massal terjadi. Di antara yang mati konyol itu ada anak-anak yang tidak tahu apa-apa.

[6] Lihat Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation, Spirituality and Strategies (New York: Orbis Books, 1998), hlm. 3

[7] Lihat Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi (Bandung: Mizan bekerja sama dengan Goethe-Institut Jakarta, 2005), hlm. 17

[8] Immanuel Kant, Ibid., hlm. 17-18 dan hlm. 35-46. Hukum-hukum fundamental saya sadur dalam halaman-halaman  tersebut.

[9] Ibid., hlm. 19-23 dan 48-120

[10] Ibid., hlm. 19

[11] Itulah sebabnya Kant mengatakan bahwa negara yang berbentuk demokrasi adalah negara depotisme. Mengapa? Karena membangun kekuasaan eksekutif di mana semua memutuskan (tidak ada wakil) mendukung atau menentang seseorang yang tidak setuju.  Dalam negara demokratis setiap orang ingin menjadi penguasa.

[12] Immanuel Kant, Op. Cit., hlm. 20 dan 57-64

[13] Ibid., hlm. 21 dan hal. 65-71

[14] Lihat, F. Budi Hardiman, “Bangsa Setan-setan” dan Universalisme Lunak Kant tentang Politik dalam Masyarakat Majemuk, http://kompas.com/kompas-cetak/o510/01/Bentara/2069276.htm.

[15] Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi, Op., Cit., hlm..,  24 dan hlm. 94-128

[16] Lihat Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order, Op. Cit., hlm. 2

[17] Lihat Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order, Ibid., hlm. 10. perlu dilihat juga terjemahan buku ini, yakni: Robert J. Schreiter, Rekonsiliasi Membangun Tatanan Masyarakat Baru (Ende: Nusa Indah, 2000), hlm. 15

[18] Lihat Robert J. Schreiter, Ibid., hlm. 18

[19] Pembagian tiga level rekonsiliasi Paulus ini pertama kali dilakukan oleh Jose Comblin. Robert J. Schreiter lalu mengembangkannya. Lihat Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order, Ibid., hlm. 42. Lihat juga terjemahannya, Robert J. Schreiter, Rekonsiliasi Membangun Tatanan Masyarakat Baru, hlm. 46.

[20] Lihat Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order, Op.Cit., hlm. 42-43

[21] Lihat Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation: Spirituality & Strategies, Op. Cit., hlm. iii-iv

[22] Lihat Robert J. Schreiter, ibid., hlm. 4 lihat juga I. Ismartono, Rekonsiliasi Menurut Perspektif Katolik dalam A. Widyahadi Seputra, Rekonsiliasi: Menciptakan Hidup Damai dan Sejahtera (Jakarta: Komisi PSE/APP-KAJ, 2002), hlm. 80

[23] Lihat Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation: Spirituality & Strategies, Op. Cit., hlm 89 dan 121

[24] Robert J. Schreiter, Ibid., hlm. 4 dan 9

[25] Penjelasan mengenai hal ini saya sadur dari Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation: Spiritulity & Strategies, Ibid.,  hlm. 64-65 dan hlm. 111-116

[26] Lihat Robert Schreiter, Ibid., hlm. 117-126

[27] Saya setuju dengan hal ini. Apa yang dilakukan dan yang dialami pada masa silam perlu diungkap. Jika hal ini dilupakan rekonsiliasi tidak pernah terjadi. Sebab, bagaimana mungkin kita mengobati penyakit, jenis penyakitnya saja kita tidak tahu. Dan, bagaimana mungkin kita memaafkan sedangkan apa yang dimaafkan sudah kita lupakan!

[28] Lihat I. Ismartono, Op. Cit., hlm. 84.

 

[29] Lihat Robert Schreiter, The Ministry of Reconciliation: Spirituality & Strategies,Op. Cit.,  hlm 6-12

[30] Tindakan menghukum para penindas merupakan upaya untuk membawa pelaku kejahatan menuju ke gerbang keadilan. Lihat, Robert J. Schreiter, Ibid., hlm. 121

[31] Kelima gagasan ini diuraikan secara detail dalam Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission & Ministry In a  Changing Social Order, Op., Cit., hlm. 59-62

[32] Lihat Robert Shreiter, The Ministry of Reconciliation: Spirituality & Strategies, Op. Cit., hlm.12

[33] Lihat Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission & Ministry In a  Changing Social Order, Op. Cit., hlm. 59

[34] Lihat Reconciliation Mission, Ibid., hlm. 21. Lihat juga Robert Shreiter, The Ministry of Reconciliation: Spirituality & Strategies, Op. Cit., hlm. 64. Di situ Robert J. Schreiter menekankan kesadaran resiprokal antara pelaku dan korban: jika pelaku menyesali kesalahannya, maka gerak proses rekonsiliasi adalah: repentance → forgiveness → reconciliation. Nah, korban mesti menanggapi hal ini. Maka gerak di sini adalah: reconciliation → forgiveness → repentance. Artinya, tindakan rekonsiliasi yang dimulai korban merupakan tindakan untuk mengampuni dan membuat menyesal para penindas.

[35] Liha Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission & Ministry In a  Changing Social Order, Op. Cit., hlm. 68

[36] Rober J. Schreiter mengaskan ini lagi dalam Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission & Ministry In a  Changing Social Order, Ibid., hlm. 70: “reconciliation is more a spirituality than a strategiy.

[37] Penjelasan mengenai Yohanes 20: 24-29 ini secara detail dijelaskan dalam Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation: Spiritulity & Strategies, Op. Cit., hlm. 70-77

[38] Robert J. Schreiter, Ibid.,  hlm. 69 dan 83-90

[39] Lihat Robert J. Schreiter, Ibid., hlm. 88

[40] Robert J. Schreiter, Ibid., hlm. 94

[41] Menurut saya, hal ini tidak jatuh sebatas ide palsu jika rekonsiliasi sosial telah tercapai: undang-undang mampu menciptakan rasa keadailan, aman dan pemerintah tidak menindas, pelaku kejahatan benar-benar tidak menindas. Hal ini penting agar jangan sampai omongan kita kepada korban hanyalah gombal belaka.

[42] Robert J. Schreiter, Reconciliation: Mission & Ministry In a  Changing Social Order, Op. Cit., hlm. 71-73

 

Daftar Pustaka

 

Hardiman, F. Budi, “Bangsa Setan-setan” dan Universalisme Lunak Kant tentang Politik dalam Masyarakat Majemuk, dalam http://komas.com/kompas-cetak/o510/01/Bentara/2069276.htm

J. Schreiter, Robert. 1992. Reconciliation: Mission and Ministry in a Changing Social Order. New York: Orbis Books

J. Schreiter, Robert. 1998. The Ministry of Reconciliation, Spirituality and Strategies. New York: Orbis Books

J. Schreiter, Robert. 2000. Rekonsiliasi: Membangun Tatanan Masyarakat Baru. Ende: Nusa Indah

Kant, Immanuel. 2005. Menuju Perdamaian Abadi. Bandung: Mizan bekerja sama dengan Goethe-Institut Jakarta

Seputra, A. Widyahadi. 2002. Rekonsiliasi: Menciptakan Hidup Damai dan Sejahtera. Jakarta: Komisi PSE/APP-KAJ

One Response to “Tawaran Perdamaian: Dari Immanuel Kant Menuju Robert J. Schreiter”

  1. emy said

    Terima kasih sudah memuat artikel ini.
    Artikel ini sangat membantu saya untuk menambah referensi dalam tugas kuliah saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: