MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 57,689 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

    Trillium Lake Alpine Glow

    Chin Scratching Short-eared Owl

    More Photos

S E L A L U B E R B E D A

Posted by Postinus Gulö on September 23, 2007

Oleh Postinus Gulö*

“Sekarang berbeda dengan dulu”. Pst. Kees Bertens, SJ sering menggunakan adagium klasik Latin untuk melukiskan pernyataan itu: quantum mutatus ab illo, betapa besar perbedaannya dengan dulu. Setiap hari, bulan dan tahun bahkan setiap saat ada yang berubah, dan oleh karenanya selalu ada yang berbeda. Suasana hati pada pukul 9 pagi belum tentu sama setelah pukul 15 sore.

Dulu orang biasa jalan kaki, karena tidak ada kendaraan. Dulu serba manual, tenaga manusia, belum ada sistim mekanistik. Ingin berkomuniksi dengan saudara atau teman, Anda harus berkunjung ke rumahnya karena tidak ada telepon, email, dan HP. Ingin menulis harus memakai batu tulis karena belum ada kertas, pulpen dst.

Perubahan demi perubahan, ilmu dan teknologi semakin canggih. Bagi orang atau masyarakat dan bangsa tertentu, kecanggihan teknologi dapat mendukung sebagian sisi kehidupannya untuk survival. Tetapi bagi sebagian orang, kecanggihan IPTEK justru menjadi ancaman terutama jika kecanggihan teknologi menjadi pemicu dan mesin perang. Di alam kemodernan zaman sekarang, beban hidup seakan-akan terselesaikan, padahal tidak karena selalu ada problem baru, itu hal yang sangat aneh. Namun, Anda jangan heran karena itu adalah realita kehidupan.

Sekarang, orang tak susah lagi untuk melakukan transportasi. Mau cepat, naik pesawat saja. Mau ngobrol entah di mana, ke mana dan kapanpun tidak perlu khawatir, ada telepon atau HP. Mau ngirim surat, datang saja ke internet. Luar biasa! Berbeda dengan dulu. Tetapi apakah ada manusia yang menyadari resikonya? Tentu ada dan tentu ada yang tidak juga.

Pola hidup dan cara berinteraksi manusia selalu berubah seiring berubahnya zaman. Dulu, masyarakat desa saling mengenal siapa tetangganya, bahkan keluarga yang berada di ujung desa, mereka kenal. Hubungan persaudaraan begitu erat. Sekarang, entitas masyarakat dipertanyakan, karena ternyata kata “masyarakat” pada zaman sekarang mendapat makna baru, tak harus terikat lagi pada lokalitas. Masyarakat di kota Jakarta misalnya, keluarga di sebelah rumah, rukonya pun tidak dikenalnya (mungkin ada juga yang mengenal). Tetangga tidak lebih dari orang asing. Sekarang, hampir setiap individu menjadi pribadi monade tanpa jendela, kata Leibniz.

Pengalaman hidup selalu membentuk pola pikir setiap individu dalam memandang sesuatu. Nah, kalau manusia tidak selektif dan bijak menerima perubahan – akan terbuai dan justru ia dikuasai oleh perubahan, atau dikuasai oleh kondisi dan atmosfir, ibarat pohon di atas gunung yang selalu mengikuti arah angin. Akibatnya, Anda bisa bayangkan sendiri! Tetapi di sini saya hanya menawarkan satu ide, Anda setuju silakan, kalau tidak ya tidak masalah. Manusia yang dikuasai (mungkin karena tidak selektif) oleh perubahan (terutama hal-hal yang tidak mendukung kematangan pribadi), secara pribadi tidak lagi otonom, susah menentukan yang lebih berharga bagi kehidupannya. Karena ia tidak biasa menguasai perubahan. Jadi, justru objek menguasai subjek.

Di kalangan kaum religius: rohaniwan/i dan biarawan/i selalu mengadakan perubahan dan bahkan menerima perubahan, karena tindakan itu sangat berharga dan penting untuk perkembangan kongregasi atau ordo mereka. Perubahan itu dikalangan kaum religius memang sudah saatnya dilakukan demi merumuskan, mengadaptasikan, melihat, mengingat kembali atau mereposisi ‘spiritualitas’ sesuai dengan dinamika zaman. Kaum religius selalu ingin mengadakan perubahan demi menyempurnakan diri, menuju dan menggapai Kerajaan Allah yang abadi.

Dulu para biarawan/i ke mana saja pergi selalu pakai jubah. Waktu bangun dan jam doa teratur, segalanya teratur dalam waktu, bahkan menggunakan waktu tidak hanya sekedar chronos dan temporal tetapi lebih pada chairos (opportunity, occasion). Waktu begitu berarti dan selalu menggunakannya sebagai “kesempatan” (tentu untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan Yang Maha Rahim). Hal-hal kecil mereka sangat peka. Para rahib bertapa sepanjang hidupnya. Tak jarang, jika mereka berdosa, mencambuk diri sendiri. Aktivitas vital mereka adalah berdoa, membangun komunitas sehati sejiwa dan bagi sebagian ordo atau kongregasi lain adalah karya misi. Dulu Kaum religius berjalan di kompleks biara sambil memegang rosario, berdevosi kepada Santa Maria. Dulu biara itu tempat berkembangnya ilmu. Yang menguasai ilmu hanya kaum religius, bapa-bapa Gereja. Dan banyak sekali deretan dulu…dulu….dulu….Apa yang terjadi, sekarang semuanya berubah. Anda bisa melihat sendiri, tanpa harus diuraikan lagi!

Hebat, dahsyat dan menggiurkan. Ungkapan yang selalu kita dengar, tak jarang kata-kata atau kalimat bahkan slogan-slogan “bersyarat” yang selalu dibumbuhi oleh “kemodernan” atau ketidaktinggalan zaman. Ukuran kemodernan (bagi sebagian orang) adalah kecanggihan fasilitas. Anda punya mobil keluaran baru, berarti Anda modern. Anda punya TV baru, berati Anda modern, yang penting jika “barang” Anda baru berarti Anda hebat. Bahkan jika Anda ikut arus zaman berarti Anda modern, tidak ketinggalan zaman. Dalih-dali itu selalu dikokohkan oleh defenisi-defenisi baru yang sangat subjektif. Dan selalu memakai susunan kalimat: “Jika…..maka… “. Itu adalah kalimat dan pernyataan yang sangat meyakinkan, seolah-olah selalu benar, padahal konstruksi berpikir seperti itu tak lebih dari sebuah hipotesa, sebuah kemungkinan, dan oleh karenanya “kesasihannya” tidak bisa dimutlakan! Konstruksi logic itu semakin berkembang. Dalam mengambil keputusan misalnya, selalu didominasi oleh pola berpikir yang sangat argumentatif. Yang sangat menyedihkan, konstruksi berpikir seperti itu justru terpelihara dikalangan sebagian kaum “terpelajar” zaman sekarang. Maka kita tidak heran jika mereka-meraka itu telah terperangkap (mungkin karena tidak menyadari) dalam konstruksi logic “non causa pro causa”: menjadikan alasan yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan. Karena konklusi yang dipakai sebagai alasan, masih berada dalam tahap proses pembuktian. Istilah ini pun saya pinjam dari Pastor Sommer, OSC (alm) dalam buku “Logika”nya. Contoh berpikir semacam itu kurang lebih seperti ini: “Dr. Azahari adalah Islam, Noordin M.Top adalah Islam, Osama Bin Laden adalah Islam, Al Farouq adalah Islam, maka, orang yang beragama Islam adalah teroris”. Lihat, konklusinya adalah bahwa yang beragama Islam adalah teroris, bisa dipercaya 100%? Tentu tidak. Namun, argumen itu seolah-olah meyakinkan karena semua deretan nama itu memang pelaku terror. Contoh lain yang agak samar-samar: A1 adalah pencuri, A2 adalah pencuri dan demikian seterusnya sampai ke A10. Lantas, ditarik kesimpulan: berarti yang namanya A atau orang yang berasal atau bersuku A adalah pencuri. Persolannya, pengambil keputusan tidak tahu bahwa mungkin ada A100, yang memang beda wataknya. Kesalahan konstruksi berpikir induksi ini pernah juga terjadi di masa lalu. Misalnya saja, “sesudah reformasi Protestan, umat Katolik Italia dan Spanyol menjadi lebih lemah dalam politik, Maka orang Eropa pada waktu itu sebagian besar berkesimpulan “jadi agama Katolik itu sumber kelemahan politik”. Lihat, konklusinya adalah bahwa agama Katolik itu sumber kelemahan politik. Alasan-alasan ini menurut Pst. Sommer, OSC tidak benar karena selalu memakai konstruksi berpikir: “Post hoc, ergo propter hoc” (sesudah ini, jadi akibatnya ini). Hebat, semakin ‘terpelajar’ semakin canggih cara berpikirnya. Tetapi Anda bisa nilai sendiri, tendensinya ke mana.

Tetapi mengikuti perkembangan zaman (termasuk juga konstruksi berpikir yang salah kaprah, tidak bisa dipertanggungjawabkan) itu tidak salah kan? Sebab, kebenaran bukan hanya satu. Mungkin ini salah satu dalih Anda, alasan pembenaran diri yang dangkal. Dan saking banyaknya teori kebenaran, tak sedikit orang yang tidak mampu melihat hal yang benar atau tidak mampu mengukur kebenaran. Soal “benar” dan “baik” saja kadang-kadang didefenisikan kebalik-balik atau disamakan saja.

Kembali lagi pada masalah kebenaran. Jika melihat konstruksi berpikir di atas, kebenaran tak jarang hanya sebatas argumen belaka: Argumen Anda meyakinkan, Anda dibenarkan dan memperoleh kebenaran. Anda canggih membuat defenisi baru yang meyakinkan dan defenisi Anda seolah-olah dapat disimpulkan atau “terkesan” sebagai buah pikiran yang sangat intelektualis, Anda pasti dikagumi banyak orang, pada kesempatan itu Anda berhasil menghipnotis orang lain. Anda mampu mempengaruhi orang lain, kata-kata Anda sangat berharga. Adalah Hitler yang pernah berkata: berbohonglah terus-menerus, karena kebohongan anda itu suatu saat akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Yang perlu dicermati, jangan-jangan konstruksi berpikir dan slogan-slogan itu juga terjadi di biara atau lagi ngetren dikalangan kaum religius zaman sekarang, terutama dalam menyimpulkan dan memutuskan sesuatu. Hal ini perlu dipertanyakan. Karena dari keraguan (lebih tepatnya dialog batin) muncul suatu refleksifitas dan kesadaran. Ragu bukan berarti tidak mengerti. Seseorang meragukan “sesuatu”, itu pertanda bahwa ia memang menaruh perhatian pada ‘sesuatu itu atau mungkin karena ia pernah mengalami hal yang bisa membuat dia“ragu” pada sesuatu itu. Hidup ini harus dipertanyakan supaya layak dihidupi dan dijalani, kata Socrates.

Sekarang memang berbeda dengan dulu. Dulu, tradisi, dan mitos (atau doktrin-doktrin tertentu) mengendalikan refleksifitas. Sekarang justru refleksifitas yang mengendalikan tradisi, mitos. Dan itu barangkali yang mendorong orang untuk menciptakan worldview baru. Manusia sering mengklaim diri sebagai penentu kehidupannya, bahkan tak jarang orang yang menjadi pencipta, pengkloning manusia. Sekarang, ada tendensi bahwa manusia tidak mau diatur, didikte, bahkan kalau perlu ia harus melakukan transgresi, melanggar batas. Hebat…ia tidak memerlukan Tuhan lagi karena ia dapat mencipta, hampir sama dengan Allah, Sang Pencipta. Dan karenanya, manusia tak jarang menjadi sombong. Saking pintarnya, manusia ibarat robot yang tak punya hati lagi. Tingkah laku anda agak lain dengan yang lain, orang-orang di sekitar Anda, tak jarang langsung menyimpulkan watak anda (dan ingat cara berpikir ini juga bertendensi ‘non causa pro causa”!). Sebab, mereka lupa bahwa “dalamnya laut dapat diukur tetapi dalam hati siapa yang tahu”.

Banyak orang berkata. Ah, tenang saja. Kita kan harus hidup di tengah realitas, di tengah dunia. Tidak salah kan kalau mengikuti perkembangan zaman? Hidup ini memang dikondisikan oleh keadaan zaman. Tentu jawabannya sesuai dengan konteks. Dan hati-hati, kata-kata itu menepis selektifitas. Karena, mengapa bukan Anda yang mengkondisikan keadaan zaman. Anda harus mampu mengendalikan dan menyeleksi (tentu bukan hanya sesuai dengan rasio tetapi juga discernment) segala yang Anda inginkan dan geluti: apakah itu mendukung hidup panggilan Anda (bagi saya “hidup” termasuk “panggilan”) dan tidak merusak hidup Anda?

Tetapi tetap saja ada masalah. Seniman datang dan berkata: saya kan seorang seniman. Yang saya lakukan dan pahami sesuai yang saya alami, sesuai persepsi (sesuai aisthetikos saya) atau sesuai kesadaran saya (aistahanomia saya). Karena itu, apa yang saya lakukan jangan dihubungkan dengan masalah moral. Ini masalah kebenaran eksitensial! Lalu, apakah itu menjamin bahwa masalah sudah selesai? Jawabannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh refleksi, discernment dan permenungan.

Dunia selalu berbeda, tapi masalah selalu ada. Dunia selalu berubah, tapi dunia semakin hampa, semakin kompleks. Ini bukan kata-kata pesimis! Dunia semakin modern tetapi makna dan substansi kehidupan tak jarang menjadi hilang karena “kehidupan” adakalanya tidak bisa diberi makna atau karena berbagai macam wordlview dan ‘kebenaran-kebenaran’ yang baru bermunculan. Tetapi, sadar atau tidak sadar itulah kehidupan, itulah realita yang telah, sedang, akan dan selalu kita hadapi. Anda bisa melihat nilai-nilai tertinggi dan yang bermakna serta berharga yang mendukung keberimanan, Anda bukanlah korban buruk perubahan, Anda adalah pribadi yang otonom. Walaupun zaman berbeda, allah yang kita sembah ya tetap Allah. Dan tuhan yang kita percayai sebagai jalan, kebenaran dan hidup adalah Tuhan Yesus. Bukan allah barang dunia, allah ke-aku-an, allah mobil dan allah-allah lain yang sangat memikat.

Maaf, tulisan ini hanya sebuah tulisan, ungkapan perasaan dan barangkali ungkapan refleksi dalam memahami realitas. Contoh-contoh yang saya tampilkan pun tentu punya maksud tertentu. Dan karenanya, apa yang saya maksud belum terungkap seluruhnya dalam contoh-contoh itu. Tulisan ini hanya sebuah “karya” yang pasti memiliki kekurangan dan susunan kalimatnya pasti tidak seilmiah yang Anda kehendaki. Torehan ide dalam tulisan ini mungkin sangat tidak logis, membingungkan, bahasanya kacau balau. Sekali lagi maafkan saya, kalau ada yang kurang logis (karena memang bukan itu yang saya tekankan melainkan “refleksi”). Anda bisa mengkritiknya, dan saya tidak pernah menganggap Anda sebagai orang yang “reaktif”, karena saya sadar bahwa cara pandang saya dengan Anda memang berbeda.

* Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

One Response to “S E L A L U B E R B E D A”

  1. ANG, Sby said

    Ya’ahowu !!!

    CONGRATULATION untuk Sdr. Pontinus Gulo dengan situs terbarunya http://www.mandrehe.wordpress.com

    Sukses luar biasa untuk Sdr. Pontinus Gulo di Bdg.

    Shalom,
    ANG, Sby
    HP.: 0815 1424 8880

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: