MEDIA MANDREHE NIAS

Ya’ahowu Talifusö, Aine Tahaogö Mbanuada: Tanö Niha!

  • Pengesahan Pemekaran Nias

    Rapat Paripurna DPR RI yang diadakan pada Rabu 29 Oktober 2008 mengesahkan pemekaran Nias menjadi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias Utara, dan Kabupaten Nias Barat.
  • Situs ini telah dikunjungi sebanyak:

    • 57,689 Kali
  • Hari Blogger Nasional

    Menteri Negara Komunikasi dan Informatika Mohammmad Nuh menetapkan 27 Oktober (Kompas 27/10/2007) sebagai Hari Blogger Nasional. Dan, bagi blogger yang menulis secara kreatif, inovatif, edukatif, dan mencerahkan bagi pembangunan Bangsa Indonesia akan diberikan Blogger Award (lihat www.kompas.com)
  • RENUNGAN

  • Bisa Mengajar, Tidak Bisa Melakukan

    Bapa, Ibu, Saudara, Saudari yang dicintai Tuhan. Terima kasih, Anda meluangkan waktu membaca renungan ini. Adalah lumrah, bagi kita, jika seorang sarjana Teknik Industri lebih mengerti teknik industri, sarjana Kimia lebih tahu kimia, lulusan Kedokteran lebih mengerti bidangnya. Pertanyaannya: apakah orang beriman, Pemimpin Jemaat (Pendeta, Pastor, Biksu, Ustadz) lebih fasih dibidangnya? Atau apakah mereka sungguh berelasi dengan Tuhan? Atau apakah mereka sungguh ahli iman? Atau sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan? Sejenak kita berkata: “ya, sangat fasih, ya sangat berelasi dengan Tuhan, ya ahli iman, ya sungguh melakukan yang seharusnya mereka lakukan”. Barangkali itu jawaban kita. Dan, memang begitu! Saya bukan menggugat pernyataan ini. Tapi saya percaya bahwa menjadi ahli belum cukup. Lebih mengerti belum cukup. Sebab, pengetahuan tidaklah cukup, kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup, kita harus melakukannya, kata Johan Wolfgang von Goethe. Biarpun dia ahli tetapi jika dia tidak pernah mempraktekkan keahliannya, sia-sia saja, tidak ada faedahnya. Saya percaya bahwa ada di antara kita yang pernah membaca kisah orang Samaria yang baik hati (Luk. 10: 25-27). Isinya menarik! Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: bagaimana memperoleh hidup kekal dan siapa sesama. Apakah Ahli Taurat itu tidak tahu bagaimana memperoleh hidup kekal? Tidak mungkin. Ia pasti tahu. Ingat, dia itu adalah “ahli” Hukum Taurat, ahli hukum Tuhan! Dan, nasehat serta cara memperoleh hidup kekal ada dalam Hukum Taurat! Siapa “sesama” juga pasti ia tahu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Lantas bagaimana reaksi Yesus? Yesus tahu kedegilan hati ahli Taurat itu. Yesus pun coba menyadarkan sang ahli Taurat. Yesus menjawab dengan metafor. Sesama adalah orang yang turun dari Yerikho tapi di tengah jalan dirampok, dipukul hingga terkapar oleh penyamun tetapi kemudian, ditolong oleh seorang Samaria (yang notabene dianggap oleh orang Yahudi sebagai kafir, najis, tidak berguna). Bapa, Ibu, Saudara, Saudari. Sesama adalah semua orang, termasuk orang tertindas, orang hina (seperti orang Samaria). Figur imam dan orang Lewi adalah orang-orang yang seharusnya cekatan menolong orang yang terkapar itu, tetapi ternyata tidak. Padahal, jabatan keagamaan hampir sama dengan ahli Taurat. Nah, Yesus memakai figur kedua tokoh ini untuk menyindir si ahli Taurat yang bertanya tadi. Seorang Imam tidak tergerak hatinya untuk menolong orang terkapar yang butuh bantuan. Ia lewat begitu saja di samping orang yang membutuhkan bantuannya. Padahal, imam adalah pemimpin jemaat, orang yang mempersembahkan kurban di Bait Allah, “orang suci”, suka berdoa di Bait Allah. Tapi mengapa ia tidak menolong orang yang terkapar di pinggir jalan? Perkaranya sangat mendasar. Ia takut kehilangan waktu, tenaga, uang, materi. Imam itu tidak mau pusing-pusing! Sikap yang tidak beda jauh dari sikap Imam ini adalah sikap seorang Lewi. Ia hanya lewat di samping orang yang butuh bantuannya. Ia tidak tergerak untuk menolongnya. Kita menjadi heran. Orang Lewi adalah orang yang bekerja di Bait Allah, keturunan imam, orang suci, tapi kok tidak mau menolong. Ya, ia tidak mau kehilangan materinya, ia tidak mau pusing-pusing. Coba Anda bayangkan jika semua orang yang lewat akan berlaku demikian. Pasti orang terkapar itu mati konyol! Dalam perikop ini, tokoh ideal adalah orang Samaria. Mengapa? Karena ketika ia melihat seseorang yang terkapar di pinggir jalan lalu hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia tidak hanya iba, tapi melakukan tindakan konkret. Orang yang terkapar itu dinaikkannya ke atas keledai tunggangannya, ia tuntun ke penginapan, ia membersihkan luka dan membalutnya. Tidak hanya itu, ia memberikan uang 2 dinar (upah dua hari bekerja) kepada pemilik penginapan, bahkan kalau kurang ia akan kembali untuk melunasinya. Luar biasa. Tindakan terpuji! Padahal, orang Samaria dipandang oleh orang Yahudi sebagai penjahat, kafir, najis, bukan orang suci. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, dalam hidup sehari-hari kadang kita menganggap diri sebagai orang yang pantas, orang suci. Tetapi pada kenyataannya kita tidak mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan segenap akal budi. Ketika kita duduk di posisi yang dianggap terhormat, “suci”, lalu malah kita menjadi lupa diri. Tidak sedikit dari kita yang lebih tahu kesalahan orang lain, lalu merasa bahwa ia itu tidak pantas. Renungan kali ini, saya tutup dengan sebuah cerita. Ketika membaca sebuah buku yang berjudul: “Hidup yang Berbuah”, karya Paulus Winarto, seorang motivator, saya menemukan hal berharga: cerita reflektif! Agus seorang petani yang hidup di sebuah dusun kecil dikenal sebagai orang yang baik, rajin bekerja dan suka menolong. Meski begitu, ia termasuk jemaat yang tidak aktif di gerejanya. Inilah yang membuat sang pendeta agak kecewa. Apalagi setelah ia sendiri mendengar bahwa dalam satu hari, Agus hanya berdoa dua kali. Itupun sebuah doa singkat yang berlangsung tidak lebih dari dua menit. Suatu ketika sang pendeta berbicara dengan Tuhan mengenai kehidupan Agus. “Tuhan, payah sekali ya si Agus itu. Bayangkan Tuhan, Engkau begitu bermurah hati kepadanya. Namun, ia hanya mengingat Engkau dua kali dalam sehari, yakni dalam doa sebelum dia berangkat ke sawah dan doa sebelum ia berangkat tidur,” kata si pendeta. Sambil tersenyum Tuhan menjawab, “Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Besok, pagi-pagi benar, engkau harus keluar dari rumahmu dengan membawa semangkuk penuh susu. Dari pagi hingga sore, engkau harus berkelilinng di desa ini sambil membawa mangkuk tersebut dan jangan sampai ada setetes pun susu yang tumpah dari mangkuk tersebut.” Sang pendeta yang dikenal sangat taat ini pun menyanggupinya. Keesokan harinya, si pendeta melakukan persis seperti yang diperintahkan Tuhan. Lalu, malamnya ia kembali bertemu Tuhan. “Berapa kali sepanjang hari ini engkau mengingat-Ku?” tanya Tuhan. Dengan agak malu-malu, sang pendeta menjawab, “tidak sekali pun, Tuhan. Ampunilah hamba-Mu ini.” Lalu, Tuhan bertanya lagi, “mengapa tidak sekalipun engkau mengingat-Ku hari ini?” Jawab pendeta sambil menangis karena menyesal, “karena aku begitu berkonsentrasi pada pekerjaan yang Engkau perintahkan. Aku menjaga agar jangan sampai setetes susu tumpah dari mangkuk yang penuh itu. Mohon ampunilah hamba-Mu ini, Tuhan.” Dengan senyum penuh kasih, Tuhan menjawab, “itulah yang terjadi jika orang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri dan terlalu asyik dalam pekerjaannya. Agus, si petani sederhana itu bekerja keras seharian namun ia masih mengingat Aku dua kali sehari dalam doanya. Bibirnya tidak pernah lupa untuk mengucapkan syukur atas berkat yang telah Kuberikan”. Bapa, Ibu, Saudara, Saudari, semoga kita jangan seperti Imam dan orang Lewi di atas. Mereka hanya bisa mengajar namun tidak mampu melakukan apa yang mereka ajarkan (iso ngajar, ora iso ngelakonin). Semoga kita tidak jatuh seperti sang pendeta yang awalnya merasa lebih benar dibanding si petani miskin. Kepekaan rohani, kerendahan hati, sikap yang mau berkorban dengan tulus, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi itulah yang diharapkan Allah dari kita. Amin. (Oleh Postinus Gulö)
  • Petuah……

    PENGETAHUAN tidaklah cukup, kita harus MENGAMALKANNYA. NIAT tidaklah cukup, kita harus MELAKUKANNYA. (Johan Wolfgang von Goethe) ----------------------------- Kita sulit menggambarkan karakter diri sendiri. Namun, kita mudah menggambarkan karakter orang lain. (Dr. Budi Djatmiko, Ir., Msi) ------------------------------ Tujuan akhir pendidikan adalah untuk memberikan kemampuan yang sangat tinggi dalam membedakan segala sesuatu. Kemampuan ini adalah kekuatan untuk menunjukkan yang baik dan jahat, asli dan palsu, dan untuk lebih menyukai yang baik dan asli dibanding dengan yang buruk dan palsu. (Samuel Johnson) ------------------------------ Tao Te Ching mengatakan bahwa laut merupakan kumpulan air yang terbesar karena kedudukannya lebih rendah daripada yang lain. Semua air mengalir ke laut. Itu merupakan salah satu gagasan tentang kepemimpinan paling cemerlang yang pernah saya dengar. Kemuliaan lautan yaitu kebesarannya, digambarkan sebagi hasil kerendah-hatian atau kerendahannya. Sangat banyak pemimpin, eksekutif, dan manajer yang mengarungi jalan kehidupan mereka dengan kemuliaan, tetapi buta terhadap pentingnya kerendah-hatian saat mereka berhadapan dengan orang lain. ( Tom Morris, Direktur Morris Institute for Human Values dan Guru Besar Emeritus Filsafat Universitas Notre Dame, Amerika Serikat)
  • Life Style Photos

    Trillium Lake Alpine Glow

    Chin Scratching Short-eared Owl

    More Photos

Tawaran Perdamaian Immanuel Kant

Posted by Postinus Gulö on September 22, 2007

Oleh Postinus Gulö*

Karakter dan Situasi Umum Umat Manusia

Di era globalisasi subjek penguasa menjadi kabur dan buram. Pihak yang mengeksploitasi tidak lagi dilihat hanya sebatas individu. Penegasan “pasar” atau swastanisasi berakibat fatal secara sosial-ekonomi: yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Era globalisasi banyak menetaskan “ketidakharmonisan”. Kekerasan, perang, teror, pembunuhan semena-mena terjadi di mana-mana. Tentu, semuanya ini adalah akibat dari penyalahgunaan kemajuan IPTEK dan kelekatan pada kepentingan egois-destruktif bahkan karena manusia terlalu memelihara rasa dendam. Almarhum Paus Johanes Paulus II mensinyalir bahwa kekerasan dan perang serta penderitaan kian melilit manusia karena dendam kian dipelihara oleh manusia. Gagasan beliau tidak hanya sebatas kata. Beliau menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah manusia pengampun: ia mengunjungi Ali Agca di penjara, seorang lelaki yang pernah menembaknya. Beliau ingin menyapa dunia bahwa rekonsiliasi begitu penting. Dan, rekonsiliasi sejati terjadi ketika ada pertobatan kedua belah pihak. Singkatnya, di era globalisasi yang perlu kita refleksikan adalah apa artinya menjadi manusia. Menjadi manusia adalah menjadi subjek yang menuliskan sejarah, menciptakan tatanan dunia baru yang layak huni, menjadi agen terciptanya new humanity.

Ada berbagai terminologi untuk menyebut siapa manusia (berdasarkan karakternya): homo socius, homo faber, homo absconditus[1], homo oeconomicus, homo rationale, homo homini lupus, homo animale, homo ludens, dll. Semua sebutan ini memiliki latar belakang pemikiran yang berbeda. Misalnya, (sebagian) manusia dikatakan homo socius, karena pada kenyataannya manusia terikat dengan lingkungannya, mengikat diri dengan organisasi, memiliki kepekaan untuk menolong orang lain, solider dengan orang lain, bersedia menjadi berkat bagi orang lain. Hal itu terjadi karena (sebagian) manusia berprinsip non sibi vivere, sed at aliis proficere”: ‘hidup bukan hanya untuk diri sendiri melainkan untuk menjadi berkat bagi orang lain’. Manusia dikatakan homo faber karena tanpa bekerja, manusia akan kelaparan dan bahkan menjadi beban bagi orang lain karena ia hanya mengemis. Manusia sebagai homo absconditus (tersembunyi) terungkap karena manusia itu unik, berbeda satu sama lain dan bahkan sulit bagi kita menerka apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain.

Sebutan homo oeconomicus di era globalisasi mendapat konotasi yang tidak selamanya positif. Mengapa? Karena di era globalisasi, justru aktivitas ekonomilah yang menentukan siapa manusia itu. Seolah yang menjadi ukuran adalah ekonomi. Oleh karenanya, manusia dianggap sebagai investasi, sebagai modal, sebagai barang komoditi, hal ini dikenal dengan sebutan human comodity. Dan hal ini melahirkan problem baru terutama bagi mereka yang tidak sanggup memenuhi syarat semacam ini. Oleh karenanya, yang miskin semakin miskin dan yang kaya akan semakin kaya.

Sebutan yang menggemparkan adalah manusia sebagai serigala bagi sesamanya. Ide ini, bukan tanpa dasar. Perang Dunia I dan II cukup melukiskan bagaimana manusia berubah menjadi serigala ganas. Sekarangpun masih kita rasakan dan saksikan. Amerika mengivansi Irak, dan telah ribuan orang tewas. Poso bentrok. Pembunuhan massal terjadi. Dan yang tidak kalah mengerikan adalah bentrokkan yang terjadi di Somalia beberapa hari lalu (29 Maret – 1 April 2007) menewaskan 1. 086 orang. Di antara yang mati konyol itu ada anak-anak yang tidak tahu apa-apa.[2] Tidak hanya itu, barangkali ada ribuan orang yang terpaksa menderita, baik fisik maupun psikologis. Edward Schillebeeckx menyebut penderitaan semacam ini sebagai the dumb suffering (penderitaan bodoh, penderitaan bisu, penderitaan yang terasa sia-sia karena penderitaan itu tidak dipersembahkan bagi tujuan yang luhur apapun juga). Melihat situasi yang serba kelam tersebut, maka kita tidak heran jika Robert J. Schreiter pernah melontarkan ucapan sinis: abad kedua puluh adalah abad yang ditaburi tindak kekerasan. Lebih dari 100 juta orang telah musnah akibat perang, pertikaian, penyiksaan, pemenjaraan, genosida, dan penindasan.[3]

Kecanggihan berpikir (homo rationale) di era globalisasi telah melahirkan ambivalensi dan ambiguitas pola pikir manusia itu sendiri. Ada berbagai macam terminologi kebenaran yang sejatinya bukan kebenaran melainkan pembenaran. Tidak hanya itu, seringkali seseorang menganggap diri sedang memperjaungakn kebenaran, padahal ia sedang membabi buta. Perang Irak melukiskan hal itu. Hemat kata, tindakan anarkis, mengeksploitasi orang lain, memperbudak orang lain, represif, sikap anything goes, permissive, dianggap kebenaran. Tindakan pro-fasisme terjadi di mana-mana, perang seolah tak ber-lini. Singkatnya, dunia saat ini mengalami krisis global kemanusiaan. Krisis tersebut dapat kita lihat dalam situasi umum umat manusia dewasa ini. Kemajuan IPTEK melahirkan dampak ambivalensi (negatif dan positif); religi memudar dan muncul kaum fanatik agama; 2/3 dari jumlah umat manusia dihimpit penderitaan (disebut “those who strugle for life”) sedangkan 1/3 hidup dalam kemewahan (disebut “the affluent society atau those who enjoy life”); terjadi fragmentaris: blok ideologi Barat-Timur, blok ekonomi Utara (serba surplus, kaya, berkelimpahan) dan Selatan (selalu minus, miskin, berkekurangan). Dalam situasi ini, keberadaan pihak lain yang dianggap sebagai lawan dan setan yang mesti dimusnahkan. Jadi, ada persaingan yang melegalkan permainan kotor yang bersimbah darah. Dalam situasi seperti ini, perlulah kita merefleksikan apa yang pernah dilontarkan oleh Paul Ricouer: yang terpenting bukan hostilitas melainkan hospitalitas.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa betapa perdamaian sedang dalam situasi sulit. Perdamaian seolah tak pernah dilirik sehingga ia tak dapat unjuk gigi. Walaupun demikian, sebagai insan yang berpikir dan berusaha melakukan segala macam usaha demi menciptakan suasana kondusif, maka perdamaian tetaplah layak kita usung. Kecarut-marutan hanyalah dapat diatasi jika setiap individu kembali pada sikap yang pro rekonsiliasi, pro perdamaian. Lantas, perdamaian yang bagaimana yang ideal dalam kondisi global semacam ini? Dalam tulisan saya ini, saya menguraikan perdamaian (rekonsiliasi) ideal dalam situasi umat manusia di era globalisasi yang notabene terus berkubang dalam situasi perang, penindasan, kebencian, eksploitasi, permissivisme, fanatisme, kecurigaan, keegoisan, kemiskinan. Dalam tulisan ini, saya memfokuskan diri untuk menilik gagasan tokoh intelektual dan agen perdamaian: Immanuel Kant. Perdamian abadi a la Immanuel Kant tendensinya lebih pada moral dan politik-praktis. Kant berusaha menjelaskan bagaimana perdamaian abadi dapat diciptakan secara politis-praktis.

Perdamaian dalam perspektif Immanuel Kant[4]

Konteks pemikiran Kant adalah Eropa. Kant menyaksikan sendiri bagaimana Eropa berkubang dalam perang yang mengakibatkan penderitaan dan kemiskinan yang mengerikan. Seolah manusia tak memiliki hati nurani dan tak bermoral! Oleh karena itu, bagi Immanuel Kant, perdamaian merupakan persoalan moral individu. Setiap orang mampu bertanggung jawab jika ia memiliki moralitas. Moral lahir dalam diri manusia karena manusia mampu berpikir. Dengan kata lain, Kant memandang perdamaian bukan soal wilayah politik yang bersifat publik melainkan soal moral individu. Perdamaian abadi terjadi jika manusia memiliki kehendak yang tulus. Kant yakin bahwa perdamaian abadi itu mungkin terjadi, tetapi hanya dapat dicapai melalui kebijakan politik yang menempatkan diri di bawah paham “kewajiban hukum murni” atau ada prinsip taat pada hukum.[5]

Hukum-hukum Fundamental Demi Terciptanya Perdamaian Antarnegara[6]

Pertama, tidak boleh ada perjanjian perdamaian yang memiliki maksud terselubung. Maksud terselubung, misalnya, melakukan perjanjian perdamaian demi mempersiapkan perang di masa depan. Nah, jika demikian, pejanjian tersebut tidak ada bedanya dengan penangguhan sikap permusuhan atau gencatan senjata, yang sesungguhnya perang masih akan berlanjut. Padahal, kata Kant, perdamaian berarti akhir dari sikap permusuhan.

Kedua, tidak boleh menghancurkan negara-negara berdaulat. Kant dengan tegas mengatakan bahwa tidak boleh ada negara berdaulat yang dapat diperoleh negara lain melalui pewarisan, pertukaran, pembelian atau pemberian. Sebuah negara berdaulat bukanlah hak milik. Ia adalah suatu masyarakat manusia yang tidak boleh diatur dan dikuasai oleh orang lain. Negara berdaulat ibarat sebatang pohon yang memiliki akarnya sendiri. Manakala negara mencangkokkan diri ke negara lain layaknya tunas, itu berarti negara tersebut mengakhiri eksistensinya sebagai negara berdaulat yang bermoral dan menjadikannya benda.

Ketiga, tidak dibenarkan perlombaan persenjataan. Tentara tetap (miles pepetuus) harus dihapuskan secara berangsur-angsur. Sebab, tentara terus-menerus mengancam negara lain dengan perang melalui kesiapan mereka untuk melakukan perang (perlombaan persenjataan). Kant melihat bahwa kehadiran tentara mendorong negara-negara untuk saling mengungguli dalam hal jumlah tentara yang dipersentai tanpa mengenal batas. Dan , karena tingginya biaya yang harus dibayar pada akhirnya perdamaian akan lebih sulit direalisasikan. Tentara, menurut Kant, adalah penyebab terjadinya perang agresi demi mengatasi beban biaya yang tinggi. Akibatnya, tentara menerima keadaan untuk membunuh dan dibunuh. Jadi, manusia digunakan semata-mata sebagai mesin dan alat oleh tangan negara atau pemerintah. Menurut Kant, ada tiga kekuatan yang dapat mendorong pecahnya perang: kekuatan militer, kekuatan persekutuan dan kekuatan uang yang notabene instrumen perang yang paling andal.

Keempat, tidak boleh dibenarkan tindakan pembuatan utang oleh negara tertentu untuk membiayai perang. Kant, dengan tegas melarang: tidak boleh ada utang nasional yang dikontrakkan dalam kaitannya dengan perselisihan dengan negara lain.

Kelima, negara yang secara paksa mencampuri konstitusi dan pemerintahan negara lain tidak boleh dibenarkan. Mengapa? Karena hal demikian membuat otonomi sebuah negara tidak aman. Bahkan bisa jadi dirusak oleh negara lain yang memang punya kepentingan politik, ekonomi dan sosial.

Keenam, berperang dengan memakai pembunuhan gelap, pembunuhan racun, melanggar syarat-syarat kapitulasi tidak boleh dibenarkan. Tidak boleh ada negara yang sedang berperang dengan negara lain mengizinkan sikap-sikap permusuhan yang akan menutup kemungkinan munculnya rasa saling percaya di masa perdamaian yang akan datang. Sikap permusuhan ini melingkupi pemanfaatan pembunuhan bayaran (percussores), penggunaan racun untuk membunuh (venefici), pelanggaran kapitulasi, hasutan untuk berkhianat (perduellio) terhadap negara lain.

Hukum-hukum Definitif untuk Perdamaian Abadi Antarnegara[7]

Menurut Kant, perdamaian abadi bukan keadaan alami (non status naturalis) melainkan harus diciptakan melalui ketetapan hukum agar kehadiran seseorang tidak menjadi ancaman. Keadaan alami adalah perang. Menurut Kant, ada tiga pasal (hukum) definitif untuk menciptakan perdamaian abadi antarnegara.

Pasal pertama:[8] Konstitusi sipil setiap negara seharusnya berupa republik.Hanya negara yang bersifat republik yang dapat menciptakan perdamaian abadi, karena ia adalah negara hukum demokratis. Konstitusi negara republik-demokratis harus dibangun berdasarkan tiga prinsip. a) kebebasan setiap anggota masyarakat sebagai manusia; b) berdasarkan ketergantungan semua terhadap suatu perundang-undangan umum (rakyat sebagai objek); c) berdasarkan hukum persamaan hak (sebagai warga negara). Dalam negara republik, pemerintah adalah wakil rakyat.[9] Negara republik ideal menurut Kant adalah kebijakan politik ditentukan menurut kehendak para warga negara dan bukan menurut kehendak seorang “despot” (dictator). Kant menganggap bentuk negara republik sebagai pengandaian perdamaian abadi yang harus dipenuhi ditingkat hukum negara. Lawan dari negara republik adalah despotis. Republikanisme adalah prinsip kenegaraan yang memisahkan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sedangkan despotisme adalah prinsip pelaksanaan kekuasaan sendiri oleh negara atas undang-undang yang dibuatkanya sendiri. Jadi, dalam depotisme, rakyat akan diatur oleh penguasa sesuai dengan kehendaknya sendiri (otoriter).

Pasal kedua:[10] Hukum bangsa-bangsa harus didirikan di atas suatu federasi negara- negara merdeka. (Dalam negara federasi, saya, misalnya, bukan lagi warga negara Indonesia melainkan warga negara dunia). Bangsa-bangsa sebagai negara dinilai seperti individu-individu yang dalam keadaan alaminya sudah saling melukai dengan kehidupan mereka yang berdampingan. Oleh karena itu, demi ke-aman-an, setiap negara dapat dan dianjurkan menuntut negara lain untuk mengikat dirinya dalam sebuah konstitusi yang mirip konstitusi sipil yang dapat menjamin hak-hak tiap-tiap pihak. Ini dapat berupa sebuah perserikatan bangsa-bangsa (völkerbund) dan bukan pemerintah bangsa-bangsa (völkerstaat). Kant, menolak negara super karena cenderung despotic. Jika Negara-negara ingin mencapai perdamian yang lestari harus membentuk sebuah serikat (konfederasi) yang diikat oleh hukum bangsa-bangsa (hukum internasional). Tujuan dari pasal kedua ini adalah untuk mencegah perang dan untuk mempertahankan negara yang berdaulat (otonom).

Pasal ketiga:[11] Hukum warga dunia harus terbatas pada persyaratan keramahtamahan universal. Orang asing selalu harus disambut baik sebagai tamu, tetapi mereka tidak boleh menetap karena hal itu akan mengakibatkan ketegangan-ketegangan yang berlebihan dan dengan demikian akan mengancam perdamaian. Orang asing yang menempatkan dirinya dengan damai, tak seorangpun yang boleh memperlakukannya sebagai musuh. Prinsip keramahtamahan yang dimaksud oleh Kant adalah, menekankan pada hak singgah atau berkunjung, hak menawarkan diri untuk bergabung dengan orang lain yang notabene suatu hak yang layak dimiliki semua orang karena kepemilikan mereka bersama atas permukaan bumi, tempat, dunia. Artinya, mereka (pendatang) tidak dapat secara tak terbatas menempati daerah yang mereka inginkan dan oleh karena itu mereka harus bertoleransi dengan keberadaan masing-masing juga. Pada awalnya, tak seorangpun mempunyai hak yang lebih dari orang lain atas satu bagian bumi. Jadi, Kant mengutuk kolonialisme.

Jaminan Perdamaian Abadi:

1 Alam[12]:

Menurut Kant, yang memberi jaminan bagi perdamaian abadi itu adalah alam sendiri yang ia sebut sebagai seniman besar (natura daedala rerum) yang dari mekanismenya terlihat kecocokan penyelenggaraannya, yakni menciptakan kerukunan manusia melalui perselisihan meski itu bertentangan dengan kemauan mereka. Hukum harus berlaku universal, demikian kata Kant. Oleh karenanya, Kant pernah melontarkan gagasanya: susunlah konstitusi Negara yang netral dari agama dan moral sehingga tidak menjerumuskan rakyat pada konflik moral ataupun agama, melainkan memperhitungkan bagaimana mekanisme alam mengatur hubungan antarindividu.[13] Karena apabila manusia mengikatkan diri melalui suatu tatanan hukum untuk berdamai, tekanan-tekanan kepentingan-kepentingan alami akan membuat negara-negara itu tetap mau berdamai. Kant yakin bahwa alam menghendaki kebenaran (perdamaian, keharmonisan) pada akhirnya menang. Ada dua kekuatan alam. Pertama, nasib. Kekuatan ini adalah kekuatan keniscayaan dari suatu sebab yang hukum sebab-akibatnya tak diketahui oleh manusia. Kedua, penyelenggaraan Ilahi. Kekuatan ini dilihat sebagai kebijaksanaan yang dalam dari suatu sebab yang lebih tinggi; sebab yang diarahkan pada tujuan akhir manusia yang bersifat objektif dan yang menentukan jalannya alam. Penyelenggaraan ilahi tidak bisa kita kenali dan simpulkan dari cara-cara alam menyesuaikan dirinya. Walaupun demikian kita dapat merasakan penyelenggaraan ilahi itu.

Penyelenggaraan alam (sebagai jaminan perdamaian abadi) bisa dilihat pada beberapa fakta. Pertama, memungkinkan manusia untuk bisa hidup di dalam semua wilayah di muka bumi ini. Kedua, karena perang mendesak manusia bahka ke wilayah-wilayah yang paling tak ramah untuk tinggal dan hidup di sana. Ketiga, karena perang mengharuskan mereka menciptakan hubungan yang sedikit banyak didasari hukum. Dalam diri manusia, ada tiga tahap mekanisme tindakan secara alami. Mula-mula berburu, kemudian bercocok tanam. Dan terakhir adalah berdagang. Nah, dalam aktivitas perdagangan, dalam diri manusia muncul hubungan perdamain: saling pengertian, menciptakan komunitas, menerobos batas negara. Kant, mengakui bahwa sifat alami manusia adalah perang, tetapi hukum moral-lah yang membuat umat manusia berdamai.

Singkatnya, menjaga perdamaian merupakan kepentingan semua negara republik-federasi. Alasan sejauh mana perdamaian menjadi kepentingan semua orang. Pertama, berdasarkan hukum hukum negara. Manusia secara alami mendukung tatanan hukum karena ia takut terhadap situasi anarkis. Kedua, berdasarkan hukum bangsa-bangsa. Perdamaian menghasilkan keseimbangan antara bangsa-bangsa yang saling berlomba. Ketiga, berdasarkan hukum warga dunia. Perdamaian menguntungkan perdagangan perang dan sebaliknya, bagi perdagangan, perang merugikan.

2 Pasal Rahasia: Peran Filsuf. [14]

Kant mengusulkan sebuah pasal rahasia yang menetapkan bahwa para pemimpin negara, dalam mengusahakan perdamaian, hendaknya memperhatikan para filsuf untuk mempertimbangkan langkah apa yang harus ditempuh dalam mencapai perdamaian. Pasal ini harus bersifat rahasia karena para pemimpin negara akan merasa malu jika diketahui bahwa ia dinasihati oleh filsuf. Menurut Kant, tidak baik jika filsuf menjadi pempimpin negara, karena kepemilikan kekuasaan tak bisa tidak merusak penilaian akal budi.

Hubungan antara moralitas dan politik:[15]

Menurut Kant, moralitas dan politik tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Moralitas adalah suatu praksis dalam pengertian objektif: keseluruhan hukum-hukum yang mengikat tanpa syarat seharusnya kita jadikan sebagai acuan bertindak, misalnya, kewajiban dan tanggung jawab. Kejujuran (dimensi moral) adalah politik terbaik. Kebijakan politik yang murni pragmatis –sebagaimana diikuti oleh sang moralis politik-tidak menjamin perdamaian lestari karena sang moralis-politik menganggap idea hukum, kewajiban untuk tetap berdamai, bukanlah sebagai tujuan melainkan sebagai sarana demi tujuan-tujuan politik lain. Sebaliknya, perdamaian lestari mengandaikan kehendak moral untuk tetap berdamai sehingga mekanisme alam dapat mengarahkan kecenderungan-kecenderungan egois manusia ke penjagaan perdamaian.

Kant, dalam akhir bukunya tentang “Menuju Perdamaian Abadi”, menegaskan harmoni antara politik dan moralitas berdasarkan konsep hukum publik yang transcendental. Hubungan harmoni antara politik dan moralitas, memungkinkan manusia untuk memastikan apakah pertimbangan yang akan mendasari tindakan politik secara moral dapat diterima atau tidak. Tolok ukur itu adalah publisitas. Apabila pertimbangan-pertimbangan itu tidak dapat dibuka terhadap masyarakat luas, pertimbangan-pertimbangan itu secara moral tidak dapat dibenarkan dan tindakan itu secara moral dilarang. Sebaliknya, semua pertimbangan yang hanya dapat mendasari tindakan politis apabila semua pertimbangan dibuka kepada publik, secara moral bersifat benar. Kebijakan politik yang mendasarkan diri pada pertimbangan yang harus menghindar dari sorotan publik, secara moral bersifat jahat.

Perdamaian baru bisa menjadi nilai unggul yang secara efektif mengalahkan tujuan-tujuan politik lain (yang dapat dicapai melalui perang) apabila keputusan tentang perang atau damai diambil oleh para warga negara yang terkena sendiri (korban), dan bukan oleh seorang diktator (despot) yang lolos dari akibat-akibat buruknya. Pendeknya, tanpa kehendak moral yang mau berdamai niscaya perdamaian hanya tergantung dari perhitungan untung-rugi para pemimpin kegara dank karena itu mandeg di tingkat “perlucutan senjata”. Menurut Kant, untuk membuat warga negara tidak berperang, mereka tidak perlu dikhotbahi, cukup dengan membuat hukum yang berlaku secara universal. Para warga negara akan membawa diri lebih baik apabila negara diorganisasikan secara bijaksana.

Jadi, perdamaian hanya terjadi jika kebjikan-kebijakan negara tulus dan selalu memperhatikan kepentingan masyarakat secara universal. Kebijakan politik harus tetap dalam koridor moral. Pernyataan ini jangan luput dari perhatian kita!

Postinus Gulö adalah Moderator Weblog ini dan Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung; sekarang dipercaya sebagai Staf Internal Inspector Majelis Perwakilan Mahasiswa Unpar periode 2007-2008


[1] Homo absconditus berasal dari ide Blaise Pascal dan Rudolf Otto

[2] Lihat Kompas hari Rabu, 11 April 2007, hlm. 10

[3] Lihat Robert J. Schreiter, The Ministry of Reconciliation, Spirituality and Strategies (New York: Orbis Books, Maryknoll, 1998), diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yosef Maria Florisan, Pelayanan Rekonsiliasi, Spiritualitas dan Strategis (Ende: Nusa Indah, 2001), hlm. 15

[4] Immauel Kant adalah pemikir terpenting zaman Aufklärung (zaman pencerahan). Pendapat sentralnya di zaman pencerahan adalah Sapere Aude, berpikirlah sendiri. Beliau lahir pada 22 April 1724 di Königsberg. Ia banyak menulis buku dan artikel. Namun, di sini saya hanya menyebutkan satu karya tersohornya yakni Zum Ewigen Frieden yang berarti: Menuju Perdamaian abadi (1795). Tanggal 12 Februari 1804, Kant meninggal dunia.

[5] Lihat Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi (Bandung: Mizan bekerja sama dengan Goethe-Institut Jakarta, 2005), hlm. 17

[6] Immanuel Kant, Ibid., hlm. 17-18 dan hlm. 35-46

[7] Ibid., hlm. 19-23 dan 48-120

[8] Ibid., hlm. 19

[9] Itulah sebabnya Kant mengatakan bahwa negara yang berbentuk demokrasi adalah negara depotisme. Mengapa? Karena membangun kekuasaan eksekutif di mana semua memutuskan (tidak ada wakil) mendukung atau menentang seseorang yang tidak setuju. Dalam negara demokratis setiap orang ingin menjadi penguasa.

[10] Immanuel Kant, Op. Cit., hlm. 20 dan 57-64

[11] Ibid., hlm. 21 dan hal. 65-71

[12] Ibid., hlm. 22-23

[13] Lihat, F. Budi Hardiman, “Bangsa Setan-setan” dan Universalisme Lunak Kant tentang Politik dalam Masyarakat Majemuk, http://kompas.com/kompas-cetak/o510/01/Bentara/2069276.htm.

[14]Immanuel Kant, Menuju Perdamaian Abadi, Op., Cit., hlm. 23

[15] Ibid., 24 dan hlm. 94-128

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: